Showing posts with label Bicara Agama. Show all posts
Showing posts with label Bicara Agama. Show all posts

Friday, September 18, 2009

Doa Raya

Kami bersyukur kepada Mu telah dapat kami menjalani ibadah bulan Ramadhan di mana Engkau melimpah ruahkan di dalamnya kerahmatan, keampunan dan pembebasan dari api nerakaMu.

Ya Allah kami memohon kepadaMu keberkatan dan diturunkan rahmat ke atas kami sepanjang kehidupan kami di dunia ini.

Engkau redhailah dan berkatilah segala bentuk ibadah yang telah kami lakukan.

Engkau ampunilah segala dosa-dosa kami. Engkau terimalah taubat kami dan amalan kami.

Engkau makbulkan semua doa-doa kami.

Engkau limpahilah ke atas kami kebaikan yang besar dan berbangga Engkau mengenai kami di hadapan malaikat-malaikat Mu. Sesungguhnya orang yang bernasib malang ialah dia yang dinafikan daripada rahmat Mu ya Allah.

Ya Allah ya Tuhan kami, kami telah beriman kepadamu; oleh itu ampunkanlah dosa kami serta berilah rahmat kepada kami, dan sememangnya Engkaulah jua sebaik-baik Pemberi rahmat.

Ya Allah…Janganlah kami dihina kerana maksiat kami dan janganlah Engkau seksa kami dengan balasanMu. Jauhkanlah kami daripada sesuatu yang boleh mendatangkan kemurkaanMu.

Ya Allah…Tempatkan kami dikalangan orang yang sentiasa memohon keampunan-MU. Jadikanlah kami hamba-MU yang soleh serta jadikanlah kami dikalangan auliya.

Ya Allah, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat.

Ya Allah, hadir kami di rumah ini bagi menyambung dan mengukuhkan silaturahim di antara kami.

Ya Allah, kami berdoa untuk Tuan rumah dan seluruh ahli keluarganya, Engkau ampunilah mereka, sayangilah mereka dan berkatilah apa-apa yang Engkau kurniakan kepada mereka”

Ya Allah, berikanlah makan kepada orang yang memberi makan kepada kami, dan berikanlah minum kepada orang yang memberi minum kepada kami. Kami berdoa semoga Engkau mengurniakan rezeki dan petunjuk ke arah kebaikan kepada sekelian hadirin.

Kami memohon Mudah-mudahan kami semua mendapat manfaat hari mulia ini dan bulan mulia Ramadhan yang telah lalu. Mudah-mudahan kami akan dipanjangkan usia dalam keadaan bertambahnya iman dan taqwa dan kami akan bertemu dengan Ramadhan pada tahun 1431. In Sya Allah..



veni vidi vici

Kelebihan Ramadan

Kelebihan Ramadan

Diriwayatkan daripada Abu Hurairah RA katanya: Rasulullah SAW bersabda: "Apabila tiba bulan Ramadan, dibuka pintu-pintu Syurga dan ditutup pintu-pintu Neraka serta syaitan-syaitan dibelenggu."

Diriwayatkan daripada Abu Hurairah RA katanya: Rasulullah SAW bersabda: "Dan sesiapa yang berpuasa di bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharapkan keredhaan Allah, akan diampunkan segala dosa yang dilakukannya sebelum itu."


Kelebihan berpuasa


Diriwayatkan daripada Sahl bin Saad RA katanya: Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya di dalam Syurga itu terdapat pintu yang dinamakan Ar-Rayyan. Orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada Hari Kiamat kelak. Tidak boleh masuk bersama mereka seorangpun selain mereka. Kelak akan ada pengumuman: Di manakah orang yang berpuasa? Mereka lalu berduyun-duyun masuk melalui pintu tersebut. Setelah orang yang terakhir dari mereka telah masuk, pintu tadi ditutup kembali. Tiada lagi orang lain yang akan memasukinya."


Diriwayatkan daripada Abu Said al-Khudri RA katanya: Rasulullah SAW bersabda: "Setiap hamba yang berpuasa di jalan Allah, Allah akan menjauhkannya dari api Neraka sejauh perjalanan tujuh puluh tahun."


Akhlak sewaktu berpuasa


Diriwayatkan daripada Abu Hurairah RA katanya: Rasulullah SAW bersabda: "Apabila seseorang daripada kamu sedang berpuasa pada suatu hari, janganlah bercakap tentang perkara yang keji dan kotor. Apabila dia dicaci maki atau diajak berkelahi oleh seseorang, hendaklah dia berkata: Sesungguhnya hari ini aku berpuasa, sesungguhnya hari ini aku berpuasa."


Diriwayatkan daripada Abu Hurairah RA katanya: Rasulullah SAW bersabda: "Sesiapa yang tidak meninggalkan percakapan bohong dan perbuatan tidak baik, Allah tidak inginkan tindakannya menahan diri dari makan dan minum (yakni Allah tidak menerima puasanya)."


Kelebihan bersahur


Diriwayatkan daripada Anas RA katanya: Rasulullah SAW bersabda: "Hendaklah kamu bersahur kerana di dalam bersahur itu ada keberkatannya."


Kelebihan menyegerakan berbuka


Diriwayatkan daripada Sahl bin Saad RA katanya: Rasulullah SAW telah bersabda: "Seseorang itu sentiasa berada di dalam kebaikan selagi mereka selalu menyegerakan berbuka puasa."


Kelebihan Solat Tarawih dalam bulan Ramadan


Diriwayatkan daripada Abu Hurairah RA katanya: Saya telah mendengar sabda Rasulullah SAW mengenai Ramadan: "Sesiapa yang mendirikan solat (Tarawih) dalam bulan itu dengan penuh keimanan dan mengharapkan keredhaan Allah, akan diampunkan segala dosa yang dilakukannya sebelum itu."


Kelebihan Lailatulqadar dan galakan untuk mencarinya


Diriwayatkan daripada Saidatina Aisyah RA katanya: Rasulullah SAW bersabda: "Carilah Lailatulqadar pada sepuluh hari yang terakir di bulan Ramadan."


Ganjaran untuk amalan yang dilakukan pada malam Lailatulqadar


Diriwayatkan daripada Abu Hurairah RA katanya: Rasulullah SAW bersabda: "Sesiapa yang mendirikan solat pada malam Lailatulqadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan keredhaan Allah, maka akan diampunkan segala dosa yang dilakukannya sebelum itu."


Beriktikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan


Diriwayatkan daripada Saidatina Aisyah RA katanya: Rasulullah SAW biasanya beriktikaf pada sepuluh hari yang terakhir dalam bulan Ramadan.


Menambahkan amal ibadah pada sepuluh hari terakhir Ramadan


Diriwayatkan daripada Saidatina Aisyah RA katanya: Rasulullah SAW bermujahadah pada sepuluh hari yang terakhir bulan Ramadan tidak seperti bulan-bulan lain.


Makan dan minum kerana terlupa tidak membatalkan puasa


Diriwayatkan daripada Abu Hurairah RA katanya: Rasulullah SAW bersabda: "Sesiapa yang terlupa sedangkan dia berpuasa, lalu dia makan atau minum, hendaklah dia terus menyempurnakan puasanya kerana dia telah diberi makan dan minum oleh Allah."


Tidak Batal Puasa Orang Yang Bangkit Dari Tidur Di Waktu Pagi Dalam Keadaan Berjunub


Diriwayatkan daripada Aisyah dan Ummu Salamah RA, kedua-duanya berkata: Nabi SAW bangkit dari tidur dalam keadaan berjunub bukan dari mimpi kemudian meneruskan puasa.


Janganlah berpuasa sehari dua sebelum Ramadan


Diriwayatkan daripada Abu Hurairah RA katanya: Rasulullah SAW telah bersabda: "Janganlah kamu berpuasa sehari atau dua hari sebelum tiba bulan Ramadan melainkan orang yang biasa berpuasa dengan puasa yang tertentu maka bolehlah dia berpuasa."veni vidi vici

Nama-nama Allah

01 Ar-Rahman -Yang Maha Pemurah
02 Ar-Rahim -Yang Maha Mengasihi
03 Al-Malik -Yang Maha Menguasai
04 Al-Quddus -Yang Maha Suci
05 Al- Sallam -Yang Maha Selamat Sejahtera
06 Al-Mu'min -Yang Maha Melimpahkan Keamanan
07 Al-Muhaimin -Yang Maha Pengawal serta Pengawas
08 Al-Aziz -Yang Maha Berkuasa
09 Al-Jabbar -Yang Maha Kuat
10 Al-Mutakabir -Yang Melengkapi Segala Ke Besarannya
11 Al-Khaliq -Yang Maha Pencipta
12 Al-Bari -Yang Maha Menjadikan
13 Al-Musawwir -Yang Maha Pembentuk
14 Al-Ghaffar -Yang Maha Pengampun
15 Al-Qahhar -Yang Maha Perkasa
16 Al-Wahhab -Yang Maha Penganugerah
17 Al-Razzaq -Yang Maha Pemberi Rezeki
18 Al-Fattah -Yang Maha Pembuka
19 Al-'Alim -Yang Maha Mengetahui
20 Al-Qabidh -Yang Maha Pengekang
21 Al-Basit -Yang Maha Melimpah Nikmat
22 Al-Khafidh -Yang Maha Perendah (Pengurang)
23 Ar-Rafi' -Yang Maha Peninggi
24 Al-Mu'izz -Yang Maha Mengasihi dan menghormati (Memuliakan)
25 Al-Muzill -Yang Maha Menghina
26 As-Sami' -Yang Maha Mendengar
27 Al-Basir -Yang Maha Melihat
28 Al-Hakam -Yang Maha Mengadili
29 Al-'Adl -Yang Maha 'Adil
30 Al-Latif -Yang Maha Lembut serta Halus
31 Al-Khabir -Yang Maha Mengetahui
32 Al-Halim -Yang Maha Penyabar
33 Al-'Azim -Yang Maha Agung
34 Al-Ghafur -Yang Maha Pengampun
35 Asy-Syakur -Yang Maha Bersyukur
36 Al-'Aliy -Yang Maha Tinggi serta Mulia
37 Al-Kabir -Yang Maha Besar
38 Al-Hafiz -Yang Maha Memelihara
39 Al-Muqit -Yang Maha Menjaga
40 Al-Hasib -Yang Maha Penghitung
41 Al-Jalil -Yang Maha Besar serta Mulia
42 Al-Karim -Yang Maha Pemurah
43 Ar-Raqib -Yang Maha Waspada
44 Al-Mujib -Yang Maha Pengkabul
45 Al-Wasi' -Yang Maha Luas
46 Al-Hakim -Yang Maha Bijaksana
47 Al-Wadud -Yang Maha Penyayang
48 Al-Majid -Yang Maha Mulia
49 Al-Ba'ith -Yang Maha Membangkitkan Semula
50 Asy-Syahid -Yang Maha Menyaksi
51 Al-Haqq -Yang Maha Benar
52 Al-Wakil -Yang Maha Pentadbir
53 Al-Qawiy -Yang Maha Kuat
54 Al-Matin -Yang Maha Teguh
55 Al-Waliy -Yang Maha Melindungi
56 Al-Hamid -Yang Maha Terpuji
57 Al-Muhsi -Yang Maha Penghitung
58 Al-Mubdi -Yang Maha Pencipta dari Asal
59 Al-Mu'id -Yang Maha Mengembali serta Memulihkan
60 Al-Muhyi -Yang Maha Menghidupkan
61 Al-Mumit -Yang Mematikan
62 Al-Hayy -Yang Senantiasa Hidup
63 Al-Qayyum -Yang Hidup serta Berdiri Sendiri
64 Al-Wajid -Yang Maha Penemu
65 Al-Majid -Yang Maha Mulia
66 Al-Wahid -Yang Maha Esa
67 Al-Ahad -Yang Tunggal
68 As-Samad -Yang Menjadi Tumpuan
69 Al-Qadir -Yang Maha Berupaya
70 Al-Muqtadir -Yang Maha Berkuasa
71 Al-Muqaddim -Yang Maha Menyegera
72 Al-Mu'akhkhir -Yang Maha Penangguh
73 Al-Awwal -Yang Pertama
74 Al-Akhir -Yang Akhir
75 Az-Zahir -Yang Zahir
76 Al-Batin -Yang Batin
77 Al-Wali -Yang Wali / Yang Memerintah
78 Al-Muta'ali -Yang Maha Tinggi serta Mulia
79 Al-Barr -Yang banyak membuat kebajikan
80 At-Tawwab -Yang Menerima Taubat
81 Al-Muntaqim -Yang Menghukum (mereka yang bersalah)
82 Al-'Afuw -Yang Maha Pengampun
83 Ar-Ra'uf -Yang Maha Pengasih serta Penyayang
84 Malik-ul-Mulk -Pemilik Kedaulatan Yang Kekal
85 Dzul-Jalal-Wal-Ikram -Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan
86 Al-Muqsit -Yang Maha Saksama
87- Al-Jami' -Yang Maha Pengumpul
88- Al-Ghaniy -Yang Maha Kaya serta Serba Lengkap
89- Al-Mughni -Yang Maha Mengkayakan dan Memakmurkan
90 Al-Mani' -Yang Maha Pencegah
91 Al-Darr -Yang Mendatangkan Mudharat
92 Al-Nafi' -Yang Memberi Manfaat
93 Al-Nur -Yang bercahaya
94 Al-Hadi -Yang Memimpin dan Memberi Pertunjuk
95 Al-Badi' -Yang Maha Pencipta Yang Tiada BandinganNya
96 Al-Baqi -Yang Maha Kekal
97 Al-Warith -Yang Maha Mewarisi
98 Ar-Rasyid -Yang Memimpin (Ke arah Kebenaran)
99 As-Sabur -Yang Maha Penyabar

veni vidi vici

Wednesday, August 19, 2009

Bersedialah untuk kita solatkan orang tersayang

SEMBAHYANG JENAZAH

Fadhilat menyembahyangkan jenazah itu adalah besar sekali. Dia akan menambahkan kebaikan orang yang menyembahyangkannya serta membantu orang yang disembahyangkan. Riwayat daripada Abu Hurairah katanya, Rasulullah SAW bersabda: Ertinya: "Sesiapa yang menghadiri jenazah sehingga disembahyangkan, maka ia mendapat satu Qirat. Sesiapa yang menghadirinya sehingga pengkebumiannya, maka dia mendapat dua qirat." Kemudian ditanya: "Apa yang dimaksudkan dua qirat itu?" Bagi menjawab : " Seperti dua gunung yang besar." ( Riwayat Bukhari, Muslim dan lainnya)
Sabda Rasulullah SAW:
Ertinya: Tidak dari seorang Muslim yang mati ikut serta menyembahyangkannya 40 orang lelaki yang tidak syirik kepada Allah dengan sesuatu, melainkan diterima syafaat mereka ke atas si mayat." (Riwayat Muslim, Abu Daud)

SYARAT-SYARAT SEMBAHYANG JENAZAH

Di antara syarat-syarat untuk mengerjakan sembahyang jenazah ialah:
Orang yang hendak menyembahyangkan jenazah mestilah sudah akil baligh, suci daripada hadas kecil dan besar , menutup aurat dan mengadap kiblat.
Tidak disyaratkan masuk waktu, terutama kalau ditakuti tubuh mayat itu rosak, maka hendaklah disegerakan sekalipun dalam waktu yang tidak baik (makruh)
Jenazah itu mestilah telah selesai dimandikan serta dikafankan.
Imam solat jenazah wajib menjelaskan rukun-rukun dan cara-cara sembahyang jenazah itu kepada para makmum kerana ditakuti ada di antara yang hadir tidak tahu atau telupa.


CARA-CARA MENYEMBAHYANGKAN JENAZAH

Letakkan mayat di hadapan imam melintangi kiblat
Bagi mayat lelaki kepalanya di sebelah kiri imam dan imam pula berdiri di sebelah kepala atau dada mayat.
Bagi mayat perempuan, kepala disebelah kanan imam dan imam berdiri di pinggangnya (gambarajah 24)Untuk menyembahyangkan jenazah ghaib iaitu mayat yang hilang tidak dijumpai seperti mati tenggelam di dalam laut, dihanyutkan oleh arus sungai yang besar, dimakan harimau dan sebagainya, imam dan makmum perlu menghadap ke kiblat tanpa perlu ada jenazah di hadapannya.
Sebelum sembahyang sunat dilafazkan oleh bilal: Maka orang ramai {makmum) menjawab:
Seboleh-bolehnya hendaklah diadakan sebanyak 3 saf atau lebih kerana mengharapkan keampunan Allah. Sebaik-baiknya jenazah itu disembahyangkan oleh seramai 40 orang.
Daripada hadis riwayat Malik bin Hubairah yang mengatakan bahawa Nabi SAW bersabda:
Ertinya: "Apabila ada orang muslim yang mati kemudian disembahyangkan oleh jemaah kaum muslimin (sampai Tiga saf) maka diampunilah dosanya".(Riwayat Ahmad , Abu Daud, Ibnu Majah, Tarmizi dan Hakim)


LAFAZ NIAT

1. Mayat lelaki:
( Sahaja aku sembahyang atas ini lelaki empat takbir fardu kifayah menjadi makmum(imam) kerana Allah Taala).
2. Mayat perempuan:
( Sahaja aku sembahyang atas ini perempuan empat takbir fardu kifayah menjadi makmum(imam) kerana Allah Taala).
3. Niat umum hadir dan ghaib, lelaki atau perempuan,
(Sahaja aku sembahyang atas mayat yang disembahyangkan oleh imam menjadi makmum, kerana Allah Taala).

4. Berdiri Betul - Sembahyang dikerjakan dengan berdiri lurus tanpa sebarang rukuk dan sujud atau sebagainya.4. 4 kali takbir termaksuk takbiratul ihram - tidak perlu mengangkat tangan selain daripada takbir yang pertama sahaja.5. Membaca Al-Fatihah - Membaca Al-Fatihah sesudah takbir pertama6. Selawat ke atas Nabi - Membaca selawat sesudah takbir kedua, sekurang-kurangnya bacaan Selawat ialah: 7. Doa bagi jenazah - Membaca doa sesudah takbir ketiga, sekurang-kurangnya ialahJika perempuan Doa khusus bagi si mayat juga buat seluruh kaum muslim yang Dibaca oleh rasulullah WAS sebagaimana dalam hadis dari Abu Hurairah, katanya rasulullah SAW berdoa sewaktu menyembahyangkan jenazah. Doanya ialah :Ertinya : "Ya Allah, ampunilah dosa kami semua, yang masih hidup dan yang sudah mati, orang kecil dan besar, lelaki dan wanita dan yang hadir serta yg ghaib. Ya Allah orang-orang yang Engkau hidupkan di antara kami, hidupkan dalam agama Islam, dan yang Engkau matikan di antara kami, matikanlah dalam iman. Ya Allah, janganlah terhalang kami dari pahalanya dan janganlah kami disesatkan sepeninggalnya ." (Riwayat Ahmad Dan Ashab Al-sunan)
Kalau yang disembahyangkan itu anak-anak hendaklah dibacakanErtinya : " Ya Allah, jadikanlah dia bagi kami titipan dan simpanan." (Riwayat Bukhari dan Al_Baihaqi) 8. Memberi salam - Sudahi sembahyang jenazah dengan salam sekali ke kiri dan sekali ke kanan sesudah keempat. Lafaznya


TALKIN Selepas Jenazah ditanam.


Wahai …………………………… bin/binti ……………………………mudah-mudahan Allah Taala memberi rahmat akan kamu, ingatlah, bahawa dunia dan segala perhiasanya telah hilang daripadamu, dan sekarang kamu telah masuk ke alam barzakh, inilah dia tempat permulaan tempat masuk ke alam akhirat, maka jangan lah kamu lupakan janji yang mana kamu telah keluar daripada dunia, dan kamu telah masuk ke dalam bahagian negeri akhirat, iaitu menyatakan dan menerangkan bahawa tiada Tuhan melainkan Allah, dan bahawa Nabi Muhammad itu pesuruh-Nya, maka dating kepada kamu dua orang malaikat, iaitu Munkar dan Nakir yang diperintahkan Allah untuk memeriksa kamu, ketahuilah kamu, bahawa keduanya itu makhluk Allah, sebagaimana kamu jua adalah makhluk-Nya. Dan apabila bertanya keduanya siapa Tuhanmu?Dan siapa nabimu?dan apakah pegangan kepercayaanmu?dan atas apakah kematianmu?, maka jawablah dengan terus terang, iaitu, Allah Tuhanku, Nabi Muhammad penghuluku, Islam agamaku, kitab Quran ikutanku, Kaabah kiblatku, sembahyang fardu kewajipanku, dan sekalian orang islam itu saudaraku, aku hidup dan aku mati di atas kalimah:
Berpeganglah kamu wahai…………………………………………, dengan ini hujjah, dan ketahuilah bahawa kamu akan tetap di alam barzakh ini hingga hari kiamat, dan ketahuilah pula, mati itu perkara yang sebenarnya, dan mesti ditemui oleh tiap-tiap makhluk dan soal Munkar dan Nakir di dalam kubur itu sebenarnya, demikian juga bangkit semula daripada kubur, dihisab amalan melalui titian siratalmustaqim semuanya benar itu, dan hari kiamat tetap akan dating dengan tiada syak lagi, dan Allah Taala akan membangkitkan semua orang yang di dalam kubur, dan dihitung akan segala kerja dan amalan mereka itu apa yang telah mereka buat di dalam dunia.



ADAB DAN CARA ZIARAH KUBUR

1. Hendaklah bersih daripada hadas (sunat berwudhuk).
2. Sebaik-baik sahaja sampai di tanah perkuburan sunat memberi salam secara umum kepada ahli kubur seperti berikut:
Maknanya : Salam sejahtera kepada mu wahai ahli perkuburan ini , dari kalangan kaum muslimin dan mukminin. Dan bahawa kami juga insya allah akan merurut kamu , apabila sampai gilirannya semoga Allah Ta'ala memberi rahmat dan selamat sentosa kepada kami dan kepada kamu bersama.
Maknanya : Salam sejahtera kepada kamu , wahai ahli perkampungan kubur ini. Semoga Allah mangampunkan kami dan kamu, kamu adalah orang-orang yang mendahului kami. Dan kami pula akan menurut kamu apabila sampai gilirannya.
3. Setelah sampai dekat kubur kaum kerabat atau sahabat kenalan hendaklah berdiri rapat di tepi kubur dengan mengadap kiblat/kubur sambil memberi salam sejahtera khusus kepadanya seperti.
"Assalamulaikum wahai ayahku"
Dan Diiringi Dengan Doa-Doa.
4. Selepas memberi salam sunat membaca Al-Quran dan menghadiakannya kepada simati seperti
Surah Al-Qadri
Surah Kursi
Surah Ikhlas dan lain-lain lagi
5. Selepas membaca Al-Quran sebanyak yang mungkin hendaklah menghadap kiblat dan berdoa untuk simati semoga Allah Ta'ala mengampuni dosanya dan melempahkan rahmat kepadanya.
6. Selepas membaca Al-Quran atau Tahlil dan berdoa, sebelum meninggalkan perkuburan sunat meraufkan tanah tiga kali.
Kali pertama
Maknanya : Daripadanya (tanah) Allah menjadikan kamu
Kali kedua
Maknanya : Dan daripada (tanah) tempat kembali.
Kali ketiga
Maknanya : Dan daripada (tanah ) akan keluar di hari akhirat nanti.
7. Sebelum meninggalkan kubur. Bacalah Surah Zalzalah., sebanyak 7 kali.
8. Apabila sudah sempurna dan selamat barulah tinggalkan kubur.



veni vidi vici

Monday, June 9, 2008

Agama bukan mengkhayalkan orang miskin

http://drmaza.com/?p=315
Dr. Mohd. Asri Zainul Abidin
ialah Mufti Kerajaan Negeri Perlis.

“Dan berikanlah kepada kaum keluargamu, dan orang miskin serta orang musafir akan haknya masing-masing; dan janganlah engkau membazir dengan pembaziran yang melampau. Sesungguhnya orang-orang yang membazir itu adalah saudara-saudara syaitan, sedang syaitan itu pula sangat kufur kepada Tuhannya”. (Surah al-Isra: 26-27).

Saya tertarik apabila membaca kisah al-Imam al-Nawawi (631-676H) yang diminta oleh Raja pada zamannya al-Malik al-Zahir untuk memberikan fatwa bagi mengharuskan Raja mengambil harta rakyat untuk digunakan memerangi musuh yang mengancam negara iaitu tentera Tatar. Tujuan itu pada zahirnya baik kerana mempertahankan negara dari ancaman musuh. Harta itu pun hendak digunakan untuk keperluan jihad.

Namun ramai ulama yang telah dibunuh ketika itu kerana enggan mengeluarkan fatwa berkenaan. Al-Nawawi juga enggan menulis surat sokongan terhadap tindakan Raja Zahir itu sekalipun beliau tahu pengambilan harta itu untuk kepentingan negara juga. Apabila Raja bertanya kepada beliau mengapa beliau enggan menyokong? Beliau menjawab: Setahu saya engkau dahulunya seorang hamba, tidak mempunyai harta. Kemudian Allah memberikan kurniaan kepadamu lalu diangkat engkau menjadi seorang raja. Aku dengar engkau memiliki seribu hamba lelaki yang setiap mereka memiliki tali pinggang daripada emas. Engkau juga ada memiliki dua ratus hamba perempuan, dan setiap mereka memiliki sebekas perhiasan. Jika engkau belanjakan itu semua, sehingga hamba-hamba lelakimu hanya memakai tali pinggang kain, dan hamba-hamha perempuanmu hanya memakai baju tanpa perhiasan, juga baitulmal sudah tiada simpanan wang, harta dan tanah lagi, maka aku akan fatwakan untukmu keharusan mengambil harta rakyat itu. Sesun gguhnya yang menolong jihad dan selainnya ialah penyerahan diri kepada Allah dan mengikut jalan nabi-Nya S.A.W (lihat: 'Abd al-Ghani al-Daqar, al- Imam al-Nawawi, 144-145, Damsyik: Dar al-Qalam).

Saya suka dengan jawapan al-Imam al-Nawawi ini. Saya tahu, selepas ini banyak forum-forum perdana, ceramah-ceramah di radio dan televesyen akan memperkatakan tentang kewajipan berjimat cermat. Maka ustaz, ustazah dan penceramah pun atas permintaan penaja yang membayar harga ceramah akan bersungguh-sungguh menyuruh orang-orang bawahan untuk berjimat cermat. Dalil-dalil pun akan dibaca. Mungkin akan ada ustazah yang mencari cerita-cerita ajaib yang baru untuk dikaitkan dengan bab jimat cermat dan jangan membazir. Mungkin akan ada penceramah yang cuba menangis seperti seorang pelakon berjaya yang menerima anugerah, bercerita kepada makcik-makcik yang khusyuk menonton tentang azab seorang yang membazir 'nasi lemaknya'. Datanglah orang-orang kampung mendengar forum perdana dengan basikal atau motosikal sebagai menyahut seruan agar tidak membazir petrol. Adapun penceramah, datuk-datuk penganjur, YB-YB hanya menggunakan kenderaan mewah yang berkapasiti atas daripada 2000cc. Tujua nnya untuk mengelakkan pembaziran wang kerajaan yang terpaksa dibayar kepada empunya kenderaan 2000cc ke bawah, lebih tinggi daripada 2000 ke atas. Maka insaflah makcik dan pakcik yang barangkali teringatkan tulang ikan yang pernah dibuangnya padahal masih ada sedikit sisa isinya yang melekat. Itulah membazir namanya. Maka, atas keinsafan dan taubat itu, mungkin ada yang akan mula mengurangkan makan nasi lemak daripada sebungkus seorang kepada sebungkus yang dikongsi bersama. Air kopinya yang memang sudah 'ceroi' akan ditukar kepada yang warna hitamnya antara kelihatan dan tidak. Maka selamat negara kita ini, disebabkan pakcik dan makcik, pak long dan mak long, pak lang dan mak lang di kampung sudah mengubah gaya hidup mereka. Jika saya hadir ke forum yang seperti itu, saya ingin bertanya soalan, tapi soalan yang belum 'dijakimkan', "Apakah agama ini dihantar oleh Allah untuk menghukum manusia bawahan dan menghalalkan yang lain tidur dalam kekenyangan dan kemewahan?" Se belum harga minyak naik, telah sekian lama mereka yang berada di teratak usang itu menjimat makan dan pakai. Saban hari mereka mengira belanja untuk memboleh mereka terus hidup pada kala negara dunia belum menghadapi krisis harga minyak.

Pembaziran
Saya tidak mahu membicarakan tentang kenaikan harga minyak dari sudut perjalanan ekonomi antarabangsa. Telah banyak pakar-pakarnya bicarakan. Tapi saya ingin bincangkan tentang soal pembaziran dan jimat-cermat. Ya, memang Islam memusuhi pembaziran. Bahkan al-Quran tidak pernah mempersaudarakan antara mana-mana pembuat dosa dengan syaitan, melainkan mereka yang membazirkan. Allah menyebut dalam al-Quran: (maksudnya): "Dan berikanlah kepada kaum keluargamu, dan orang miskin serta orang musafir akan haknya masing-masing; dan janganlah engkau membazir dengan pembaziran yang melampau. Sesungguhnya orang-orang yang membazir itu adalah saudara-saudara syaitan, sedang syaitan itu pula sangat kufur kepada Tuhannya". (Surah al-Isra: 26-27). Demikianlah Allah persaudarakan pembazir dengan syaitan. Kesan pembaziran sangat besar. Lihat negara kita yang kaya dengan berbagai hasil. Sepatutnya kita akan tetap kukuh dan setiap rakyat akan menikmati kekayaan ini dengan adilnya. Namun, diseb abkan pembaziran, harta negara yang sepatutnya dapat dimakan puluhan tahun, tetapi surut mendadak dalam masa beberapa tahun. Maka, yang patut mendapat bantuan dan hak, tidak cukup untuk sampai kepadanya. Barang keperluan pula bertukar menjadi mahal. Pembaziran memusnahkan kehidupan rakyat bawahan dan menghalang hak yang sepatutnya sampai kepada mereka. Maka betapa wajar untuk para pembazir itu dipersaudarakan dengan syaitan. Apatah lagi dalam banyak keadaan, pembaziran itu lahir dari keangkuhan dan kesombongan. Sifat-sifat itulah jua yang menjadi asas kepada kekufuran syaitan.

Soalannya, mengapakah apabila kita membicarakan tentang pembaziran, kita hanya terbayang orang-orang bawahan di kampung ataupun bandar. Jika kita ingin meminta supaya setiap warga negara ini berjimat dan jangan membazir, maka bermulalah daripada atas. Bukan sekadar untuk mengenakan si miskin yang sekian lama telah berjimat dan sudah tidak tahu apa yang hendak dijimatkan lagi. Mengapa kita hanya terbayang rakyat yang berada dalam rumah persendirian dan berbelanja dengan wang poketnya yang sudah lelah? Kita sepatutnya terlebih meneliti semula bagaimana perbelanjaan yang menggunakan harta negara dan rakyat yang sedang berjalan di istana-istana, kediaman-kediaman rasmi kerajaan di peringkat negara dan negeri? Apakah wajar di kala ini keraian untuk orang-orang besar sama ada sultan atau menteri begitu mewah? Makanan yang dihidangkan untuk mereka, harga satu meja kadang-kala boleh dimakan oleh ratusan rakyat bawahan. Karpet yang dipijak oleh mereka harganya ribuan bungkusan nasi yang dimakan oleh 'orang biasa'. Apakah patut pada saat yang sebegini, ada istana atau kediaman rasmi menteri yang hendak ditambahmewahkan? Apakah patut orang-orang besar ini diraikan dengan hiburan atau pertunjukan dan konsert yang menelan puluhan ribu ringgit sempena sesuatu kunjungan mereka? Wang itu, wang negara. Wang itu, wang rakyat. Apakah dalam masa yang sebegini mereka masih mendapat peruntukan untuk bersantai, bermain golf dan 'berhiburan' dengan menggunakan wang rakyat bawahan yang disuruh menjimatkan nasi lemak dan air kopi mereka? Pembaziran sebegini lebih rapat menjadi saudara syaitan dibanding wang persendirian yang dibelanjakan. Meminjam falsafah al-Imam al-Nawawi yang saya sebutkan tadi, jika orang atasan telah benar-benar berjimat, maka wajarlah untuk dikurangkan subsidi rakyat. Al-Nawawi telah dibuang negeri kerana enggan bersekongkol dengan perkara yang seperti ini. Namun, jika itu tidak dilakukan, ulama bukan burung kakak tua. Saya mengambil risiko menu lis hal ini. Tanggungjawab di hadapan Allah lebih besar daripada segala- galanya. Para ulama dahulu jauh lebih mulia, tidak dibandingkan kedaifan saya ini. Pun mereka telah menunaikan tanggungjawab al-Amr bil Ma'ruf dan al-An- Nahy 'an al-Munkar ini. Semoga Allah menimbang tinta para ulama dengan darah para syuhada.

Telah berlaku tahun kesusahan dan kelaparan yang amat sangat di Semenanjung Arab pada zaman Amirul Mukminin 'Umar bin al-Khattab. Dikenali dengan 'Am al- Ramadah kerana seakan bagaikan warna ramad atau abu disebabkan kekurangan hujan, warna tanah dan warna kulit manusia yang bertukar disebabkan kekeringan. Ini berlaku pada antara tahun 17H dan 18H selama sembilan bulan. Amirul Mukminin telah berhempas pulas menguruskan harta negara ketika itu bagi mengatasi kesusahan rakyat. Di samping kecemerlangan pengurusan, yang ingin disebutkan di sini kecemerlangan pendirian dan sikap. Ibn Jarir al-Tabari meriwayatkan bahawa 'Umar bin al-Khattab tidak memakan pada tahun berkenaan lemak haiwan, susu dan daging sehingga orang ramai dapat memakannya. Barangan makanan berkurangan di pasar. Pada suatu hari pekerjanya dapat membeli untuknya lemak dan susu namun dengan harga yang agak tinggi. 'Umar enggan makan bahkan berkata: "Engkau telah menyebabkan lemak dan susu menjadi mahal, sedekahk an kedua-duanya, aku bencikan pembaziran. Bagaimana aku dapat memahami keadaan rakyat jika tidak mengenaiku apa yang mengenai mereka?" (Al-Tabari, 2/358, Beirut: Dar al-Fikr). Juga diriwayatkan bahawa suatu hari pada tahun berkenaan disembelih unta lalu dimasak dan dibahagikan kepada orang ramai. Lalu dicedok masakan itu untuk dihidangkan juga buat 'Umar. Tiba-tiba yang dicedok itu bahagian belakang unta dan hatinya. Lalu 'Umar bertanya: "Dari mana diperoleh ini?". Daripada unta yang kita sembelih hari ini. Kata 'Umar: "Oh! Alangkah buruknya aku ini sebagai pemimpin, jika aku memakan bahagiannya yang baik lalu aku berikan rakyat makan yang sisa" (Ibn Sa'd, al-Tabaqat al-Kubra, 3/312, Beirut: Dar Sadir). Maka alangkah buruknya seorang presiden, atau sultan, atau raja, atau perdana menteri, atau menteri besar, atau menteri yang makan dengan mewah daripada peruntukan harta negara atau negeri sedangkan rakyatnya dalam kesusahan. Ketika rakyat membilang butiran beras, helaian rin ggit untuk persekolahan anak, keperitan membayar sewa rumah, api dan air, sementara mereka yang berkuasa ini pula menghadiri jamuan negara dan negeri itu dan ini. Bermewahan dengan pertunjukan dan hiburan dari peruntukan wang negara. Kemudian bercuti rehat, tanpa rakyat ketahui apakah kepenatannya untuk rakyat. Kos cuti itu pula ditanggung oleh negara tanpa sebarang pulangan keuntungan buat rakyat. Alangkah zalim! Alangkah keji sikap yang sedemikian rupa. Saya kadang- kala begitu hairan apabila seseorang dianggap 'berjiwa rakyat', hanya kerana makan nasi yang dijamu oleh rakyat, atau masuk ke kampung mendukung anak rakyat untuk beberapa minit bagi membolehkan wartawan mengambil foto. Apakah itu dinamakan berjiwa rakyat? Jika hendak diiktiraf sebagai berjiwa rakyat, rasailah apa yang rakyat rasai. Orang seperti 'Umar bin al-Khattab lebih mulia daripada segala keturunan atau pangkat yang ada di kalangan manusia. Kemuliaannya telah diiktiraf oleh Allah dan Rasul-Nya. Dia ahli s yurga dengan jaminan Allah dan Rasu-lNya sementara politiknya tidak ada saingan yang menggugatnya. Namun tetap amanah dan jujurnya terhadap rakyatnya. Merasai penderitaan rakyat. Beliau idola kepimpinan kita sepatutnya. Walaupun beliau tidak pernah menyuruh orang menyembah atau menjulangnya, namun beliau dipuja oleh sejarah dan diangkat oleh Allah.

Tanggungjawab
Kenaikan harga minyak menaikkan harga barang. Orang berpendapatan rendah menjadi mangsa. Agama berperanan untuk menyedarkan semua pihak tentang tanggungjawab terhadap rakyat. Dalam keadaan begini, antara perkara pertama yang patut dibentang kepada rakyat adalah pengurusan kemasukan dan pengagihan zakat. Zakat yang mungkin sampai kepada peringkat bilion ringgit di seluruh negara mesti diagihkan secara telus dan bijaksana. Mengapa masih ada fakir miskin yang bagaikan meminta sedekah kepada pihak yang menguruskan zakat? Mengapa program televisyen lebih menjumpai si miskin dibanding pihak yang menguruskan zakat? Mengapa zakat masih berbaki dengan begitu banyak setiap tahun sedangkan kemiskinan masih banyak? Mengapa pihak yang menguruskan zakat kelihatan bertambah mewah, sementara yang patut menerima hak kelihatannya bertambah letih dengan keadaan sekarang? Pada masa inilah peranan zakat bagi memastikan setiap yang memerlukan memperolehinya tanpa kerenah birokrasi yang bukan-bukan. Jangan sampai untuk mendapat RM150 si miskin berulang alik berkali-kali dengan tambang sendiri, sementara yang mendakwa amil zakat mengisi minyak kereta dengan wang zakat atas nama amil! Ramai kata kita berjaya menguruskan zakat sebab kutipan yang tinggi. Saya katakan, pengurusan yang berjaya itu bukan sahaja kutipan semata, tetapi juga pengagihan secara telus, bijaksana dan bertanggungjawab.

Dalam usaha kerajaan menangani kemelut ekonomi hari ini, perkara-perkara yang disebutkan ini mestilah dipandang serius. Kejayaan sesebuah kerajaan menghayati penderitaan rakyat akan menjadikan mereka lebih disayangi dan disokong. Jika orang atas mengubah cara hidup, kita akan berkempen untuk semua agar mengubah cara hidup. Jika orang agama disuruh berkempen orang bawahan agar mengubah cara hidup, sementara melupai yang di atas, mereka sebenarnya cuba menjadikan agama sebagai candu agar seseorang melupai masalah yang sebenar.


E-mel:
moasriza@yahoo. com
Layari http://drmaza. com/

Wednesday, June 4, 2008

Fahaman Islam Kita Sempit, Alam Tercemar

Dr. Mohd. Asri Zainul Abidin Mufti Kerajaan Negeri Perlis.
http://drmaza.com/arkib_utusan/?p=15

Amatlah malang bagi seorang insan yang dibekalkan dengan berbagai bekalan yang maha lengkap dalam perjalanannya, namun dia meninggalkan segala bekalan tersebut. Lantas meraba-raba bekalan ganti yang tidak seberapa. Dia meninggalkan makanan lazat berkhasiat yang dibekalkan, lalu mencari serpihan makanan di tepi-tepi jalan. Dia meninggal bekalan cahaya yang disediakan, lalu berpandu rabaan tongkat dalam kegelapan. Demikianlah hal umat Islam pada hari ini. Bekalan ajaran Islam yang disediakan oleh Allah dan RasulNya begitu indah dan hebat. Namun kita mencampaknya ke tepi. Kita mencari penyelesaian hidup dengan panduan baru. Maka, kita bukan saya tidak cemerlang, bahkan kita sentiasa kelihatan ketinggalan dalam dunia persaingan. Sebabnya, orang lain –sekalipun tanpa panduan wahyu- telah lama berfikir dan menghasilkan berbagai perkara dalam mengharungi tamadun hidup berdasarkan kefahaman mereka. Sedangkan kita, baru hendak bermula.

Jika dilihat kepada nas-nas al-Quran dan al-Sunnah, dunia Islam sepatutnya mengepalai isu-isu kemanusiaan dan alam. Malangnya, kita bukan sahaja tidak mengepalai, bahkan kita dituduh tidak prihatin dalam beberapa isu dunia. Sebahagian tuduhan itu pula benar.

Ambil sahaja soal penjagaan alam sekitar. Dunia Islam tidak mengepalainya. Lebih memalukan apabila negara-negara umat Islam sendiri tidak mengambil berat soal penjagaan alam sekitar. Bahkan ada negara umat Islam yang begitu kotor. Lebih memalukan jika kawasan masjid dan tandasnya menjijikkan. Sedangkan dalam masa yang sama kita berceramah soal taharah, kebersihan pakaian ketika solat, jenis-jenis air yang boleh diambil wuduk dan berbagai lagi. Bahkan sebahagian perbincangan dalam masalah fekah bersuci kita begitu sempit dan jumud. Sehingga kecenderungan sesetengah tok guru ke arah membatalkan ibadah lebih besar dari menghukumnya sebagai sah. Namun tinggal sekadar berlegar dalam bab wuduk dan sembahyang semata. Tidak mampu membawa kepada kebersihan dan kebajikan alam sekitar.

Dunia Islam sepatutnya menjadi perlambangan kepatuhan kepada amaran Allah dalam Surah al-Rum ayat 41: (maksudnya) Telah timbul berbagai kerosakan di darat dan di laut dengan sebab apa yang telah dilakukan oleh tangan manusia; (timbulnya yang demikian) kerana Allah hendak merasakan mereka sebahagian dari balasan perbuatan-perbuatan buruk yang mereka telah lakukan, supaya mereka kembali (insaf dan bertaubat).

Kerosakan alam sama ada di lautan atau daratan adalah disebabkan perbuatan manusia. Laut dan sungai yang tercemar, atau hutan yang binasa adalah dek perbuatan insan durhaka. Derita yang bakal dihadapi dunia disebabkan pencemaran alam adalah balasan Allah ke atas jenayah pencemaran tersebut. Umat Islam berpandu ayat ini dan ayat-ayat lain yang banyak sepatutnya mengelapai masyarakat dunia dalam menjuarai perjuangan menjaga alam sekitar.

Sebaliknya, di kalangan kita tidak menganggap perbincangan berhubungan dengan menjaga kebersihan alam dari pencemaran dan kekotoran sebahagian dari tuntutan Islam. Mereka tidak terbayang bahawa itu termasuk dalam dakwah Islam untuk manusia. Mereka tidak merasai bahawa perjuangan memelihara alam termasuk dalam amalan soleh seorang insan. Sedangkan baginda Nabi s.a.w menyebut: “Sesiapa yang memotong pokok bidara maka Allah akan rendahkan kepalanya di dalam neraka” (riwayat Abu Daud, dinilai sahih oleh al-Albani). Amaran dan doa Nabi s.a.w. agar Allah mengambil tindakan kepada pemotong atau penebang pokok bidara kerana kerimbunan pokok tersebut menjadi tempat berteduh manusia dan haiwan. Maka perbuatan memusnahkannya tanpa sebab adalah suatu pengkhianatan terhadap manusia dan haiwan. Maka hukumannya adalah neraka. Al-Imam Abu Daud dalam kitab sunannya apabila ditanya mengenai maksud hadis ini menyatakan: “hadis ini diriwayatkan secara ringkas.
Maksudnya sesiapa yang memotong pokok bidara di tanah lapang tanpa sebarang sebab dan sia-sia, sedangkan ia menjadi tempat berteduh orang bernusafir dan haiwan, maka Allah rendahkan kepalanya dalam neraka”. (Abu Daud, Sunan Abi Daud 4/361, Beirut: Dar al-Fikr).

Demikian Nabi s.a.w memperjuangkan agar tidak dimusnahkan alam tanpa sebab yang sah. Bukan sekadarnya kesalahan moral pada penilaian kesusilaan manusia, bahkan baginda memberi amaran dengan hukuman Allah pada hari akhirat nanti. Jika hanya memotong pokok bidara yang membawa kemusnahan tempat berteduh manusia dan haiwan dihukum dosa dengan balasan demikian rupa, apatah lagi bagi yang memusnah ekosistem alam yang boleh membawa kemusnahan yang lebih besar. Bahkan mungkin memusnahkan manusia sejagat. Maka mencemarkan alam pada penilaian Islam adalah satu kesalahan dari segi agama. Justeru, perjuangan memelihara alam adalah sebahagian dari perjuangan agama. Menyuruh manusia memelihara alam dan melarang mereka memusnahkannya adalah sebahagian dari kerja dakwah iaitu menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran.

Bahkan penjagaan alam dianggap sebagai satu sedekah berpahala di sisi Islam. Daripada Anas bin Malik r.a.: Katanya: Sabda RasululLah s.a.w: Tidak ada seorang muslim yang menanam tanaman atau menyemai semaian lalu burung, atau insan atau binatang berkaki empat memakannya, melainkan untuknya (pahala) sedakah. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)
Para sahabah Nabi s.a.w memahami dan mempraktikkan hal ini. Diriwayatkan, ada seorang laki-laki yang bertemu sahabat Nabi s.a.w yang masyhur iaitu Abu Darda’ ketika itu dia sedang menanam pohon. Kemudian orang laki-laki itu bertanya kepada Abu Darda’: Hai Abu Darda’! Mengapa engkau tanam pohon ini, padahal engkau sudah sangat tua, sedang pohon ini tidak akan berbuah kecuali sekian tahun lamanya. Maka Abu Darda’ menjawab: Bukankah aku yang akan memetik pahalanya di kala orang lain memakannya?

Di mana perginya hadis-hadis yang seperti ini? Ramai umat Islam, sehingga golongan agama sekalipun gagal melihat kemuliaan usaha dan perjuangan memelihara alam sekitar. Padahal pada alam itulah tercatatnya tanda-tanda keagungan Allah dan rahmahNya kepada manusia. Ayat-ayat al-Quran begitu banyak dalam hal ini. Namun kita tidak mengambil iktibar. Antara firman Allah dalam Surah al-Fatir ayat 27-28: (maksudnya) Tidakkah Engkau melihat bahawa Allah menurunkan hujan dari langit, lalu Kami keluarkan dengan air hujan itu buah-buahan yang berlainan jenis dan rupanya; dan di antara gunung-ganang pula ada yang mempunyai jalur-jalur serta lorong-lorong putih dan merah, yang berlainan warnanya dan ada juga yang hitam legam; Dan demikian pula di antara manusia dan binatang-binatang yang melata serta binatang-binatang ternak, ada yang berlainan jenis dan warnanya? sebenarnya yang takutkan Allah dari kalangan hamba-hambaNya hanyalah orang-orang yang berilmu. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa, lagi Maha Pengampun.

Ayat di atas menyatakan bahawa pemerhatian terhadap keindahan alam ciptaan Tuhan membawa kepada rasa takutkan disebabkan ilmu pengetahuan tentang kebesaran Tuhan. Banyak ayat-ayat al-Quran sepatutnya menjadi motivasi untuk masyarakat muslim menjadi masyarakat yang terbaik dalam pemeliharaan alam ciptaan Allah ini. Saya begitu kagum apabila melawat New Zealand dan melihat keindahan alamnya. Apa yang lebih mengkagumkan bagaimana disiplin masyarakatnya memelihara keindahan alam mereka. Mengapa tidak hal ini berlaku di dunia Islam secara menyeluruh?!

Ustaz-ustaz selalu menyebut tentang dosa menyakiti hati jiran. Lalu mereka kaitkan dengan mengumpat atau mengutuk jiran tetangga. Sepatutnya perbahasan itu mesti diluaskan lagi di zaman kini. Membuang sampah dan kotoran merata-rata juga termasuk dalam dosa. Ia disebabkan oleh beberapa perkara. Antaranya; perbuatan tersebut telah melanggar arahan pemerintah dalam perkara kebaikan yang disuruh Islam untuk kita taat. Sabda Nabi s.a.w.: “Ketaatan kepada pemerintah itu wajib, selagi tidak disuruh dalam perkara maksiat. Apabila disuruh dalam perkara maksiat, maka tidak perlu dengar dan taat” (Riwayat al-Bukhari). Juga sikap pengotor itu menyakitkan hati orang lain tanpa sebab yang sah. Baginda Nabi s.a.w menyebut: “Takutlah dua perkara perkara yang menyebabkan dilaknat orang. Sahabat bertanya: apakah dua perkara yang menyebabkan dilaknat orang. Sabda baginda: Orang yang membuang najis di tengah jalan orang ramai atau tempat teduh mereka” (Riwayat Abu Daud, disahihkan oleh al-Albani).

Perbuatan membuang air di tengah jalan boleh menyebabkan pembuatnya dilaknat orang ramai, maka baginda melarangnya. Dalam masyarakat yang hidup dalam keadaan teratur, perbuatan membuang sampah dan kekotoran merata-rata juga membawa kesan yang sama. Maka termasuk dalam larangan agama. Malanglah, jika ini amaran Nabi s.a.w. dibaca tetapi ada orang Islam yang tidak tahu menggunakan tandas awam dengan baik sehingga menimbulkan kemarahan pengguna yang lain. Bahkan ada tandas masjid yang masih gagal untuk mematuhi ajaran Nabi s.a.w. Bagaimana mungkin tamadun Islam hendak ditonjolkan?!!

Juga sangat memalukan, jika tempat-tempat awam dijadikan kawasan larangan merokok, namun ada masjid yang membenarkan ruangannya dijadikan tempat merokok ‘kelab jawatan kuasa’ dan penyokong-penyokongnya. Bahkan disediakan pula kopi dan bekas abu untuk perokok. Apakah masjid lebih rendah nilainya dari tempat awam? Merokok itu diharamkan oleh mijoriti para ulama moden kerana merosakkan diri, membazir dan menyakiti orang lain. Ia juga mencemarkan alam. Bau busuk mulut penghisap dan asap rokok yang membawa kemudaratan kepada orang lain. Bagaimana mungkin masjid boleh membenarkan aktiviti yang sedemikian beraksi di dalamnya. Masjid wajib menjadi zon bebas rokok. Baginda s.a.w memberi arahan kepada mereka yang memakan bawang putih: “Sesiapa yang memakan bawang putih, jangan dia menghampiri masjid kami” (Riwayat al-Bukhari). Ini disebabkan baunya yang busuk dan mengganggu jamaah. Demikian juga rokok dan penghisap rokok. Baunya yang busuk dan kesan pada penghisapnya mengganggu jamaah. Mereka sepatutnya –selagi berbau- tidak menghadirkan diri ke masjid yang memerlukan persekitaran yang harmoni dan bersih.
Khazanah Islam begitu banyak mengajar kita menjadi umat yang berdisiplin dan bersih. Malangnya kita tidak mengkaji dan mematuhinya. Sedangkan semua arahan itu memberikan kebaikan kepada manusia sejagat. Namun apabila kita beragama secara sempit. Atau mungkin kita jahil tentang hakikat Islam ini, maka kita pun kagum dengan kesungguhan orang lain seperti pencinta-pencinta alam di Barat dan Timur memelihara kebajikan masyarakat manusia. Kita lupa bahawa khazanah Islam kita telah lama mendahului hal ini. Sepatutnya dengan bekalan khazanah itu, kita mendahului manusia lain dalam memelihara keamanan dan kebajikan kehidupan alam. Namun, hal yang berlaku sebaliknya. Kita bukan sahaja tidak mengepalainya, bahkan kita tidak turut berjuang. Lebih sedih kita memandang sepi usaha-usaha yang seperti itu dan tidak menganggap sebahagian dari tuntutan agama.

Menjawab Salam Bukan Muslim

Dr. Mohd. Asri Zainul Abidin Mufti Kerajaan Negeri Perlis.
http://drmaza.com/arkib_utusan/?p=19

Apabila saya menyebut bahawa hendaklah kita menjawab salam ‘bukan muslim’ yang tidak memerangi Islam, ada kelompok ekstrimis yang membantah mati-matian. Alasan mereka senang sahaja; ‘kami tidak pernah dengar pun ada tok guru pondok kami ajar demikian’. Mereka ini jadikan seakan ilmu Islam keseluruhannya terkumpul di pondok-pondok yang pernah mereka belajar. Sesetengahnya ustaz pula telah mengharamkan diri dari membaca atau mentelaah apa yang tidak pernah disebut oleh mazhab nusantara atau generasi lama di tempatnya. Sumbangan pengajian pondok di rantau ini tidak boleh dinafikan. Namun sentimen tanpa hujah bukan ilmu yang diiktiraf dalam Islam.

Islam adalah agama yang sejahtera. Penampilan dan inti kandungannya adalah berteras kekukuhan nilai dan keindahan hakiki. Islam itu akan indah jika kita benar-benar jadikan teras kefahaman kita terhadapnya bersumberkan al-Quran dan al-Sunnah. Pendapat golongan ‘ustaz’ bukan kesemuanya tepat dengan kedua sumber agung tersebut. Bukan semua yang dianugerahkan darjah kenamaan ‘ustaz’ menguasai tajuk yang dia mengajar atau memperkatakannya. Jika semua seiras dengan ajaran al-Quran dan al-Sunnah tentu tiada perselisihan pokok antara sesama ‘ustaz’.

Jika tidak, masakan ada ustaz-ustaz yang berlainan kumpulan politik dan sesat menyesatkan antara satu sama lain. Kesimpulannya, pandangan golongan agama boleh diterima dan ditolak. Hanya yang tidak boleh ditolak ialah nas-nas al-Quran dan al-Sunnah. Sesiapa yang mengemukakan hujah berteraskan kedua sumber agung itu dan menuruti kaedah kefahaman nas yang diakui oleh disiplin kesarjanaan, maka pendapat diiktirafnya. Jika tidak, ‘ustaz’ atau ‘tok guru’ atau ‘mufti’ bukan rasul yang diutuskan sehingga setiap kalimah dari mulut mereka dinilai dengan neraca kewahyuan.

Berbalik kepada isu salam, apakah kenyataan saya mengenai boleh menjawab salam kepada bukan muslim ini sesuatu yang baru direka, atau sesetengah golongan agamawan lebih cenderung kepada sentimen tempatan dan tidak terdedah kepada perbincangan ilmiah. Di sini saya petik apa yang disebut oleh al-Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah (meninggal 751H) dalam karyanya yang terkenal Zad al-Ma’ad: “Telah berbeza pendapat para ulama salaf dan khalaf mengenai hukum memberi salam kepada Yahudi dan Kristian. Kata kebanyakan ulama tersebut: “tidak dimulakan ucapan salam kepada mereka”. Ulama yang lain berpendapat: “harus memulakan ucapan salam kepada mereka, seperti mana harus menjawabnya. Pendapat ini (kedua) diriwayatkan daripada Ibn ‘Abbas, Abu Umamah dan Ibn Muhairiz. Ia juga salah satu pendapat dalam Mazhab al-Syafi’i. Namun empunya pendapat ini dalam Mazhab al-Syafi’i menyatakan: Disebut Al-Salam ‘Alaika tanpa menyebut wa rahmat ALLAH, dan secara ifrad (untuk seorang sahaja). Segolongan ulama berpendapat: “Harus memulakan salam kepada Yahudi dan Kristian disebabkan kemaslahatan yang lebih utama yang diperlukan, atau bimbang tindakannya, atau hubungan kekeluargaan, atau apa-apa yang memerlukannya. Diriwayatkan pendapat ini dari Ibrahim al-Nakha’i dan ‘Alqamah. Kata al-Auza’i: “Jika engkau memberi salam kepada mereka (Yahudi dan Kristian), telah pun memberi salam kepada mereka golongan soleh. Jika engkau tidak memberi salam kepada mereka, telah pun tidak memberi salam kepada mereka golongan soleh yang lain”.

Sambung al-Imam Ibn Qayyim lagi: “Para ulama berbeza pendapat tentang menjawab salam mereka. Mijoriti ulama berpendapat wajib menjawab. Inilah pendapat yang benar. Kata segolongan ulama tidak wajib menjawab..”

Kata al-Imam Ibn Qayyim lagi: “Telah sabit dalam hadith, Nabi s.a.w lalu dalam satu majlis yang bercampur antara muslim, musyrikin penyembah berhala dan Yahudi, lalu baginda memberi salam untuk mereka semua”.(rujukan: Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Zad al-Ma’ad, 2/425-426, Beirut: Muassasah al-Risalah 1990).

Al-Imam al-Bukhari dalam kitabnya Al-Adab al-Mufrad di bawah tajuk Bab Kaif al-Radd ‘ala Ahl al-Zimmah (Bab Bagaimana Menjawab Salam Kafir Zimmi) meriwayatkan kata-kata Ibn ‘Abbas: “Jawablah salam sama ada Yahudi, Nasrani atau Majusi. Ini kerana ALLAH berfirman (maksudnya dari Surah al-Nisa ayat 86) Dan apabila kamu diberikan penghormatan dengan sesuatu ucapan hormat, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya, atau balaslah dia (dengan cara yang sama). Sesungguhnya Allah sentiasa menghitung tiap-tiap sesuatu. (riwayat ini bertaraf ‘hasan’).

Dalam riwayat yang lain dalam al-Adab al-Mufrad juga di bawah bab Iza Kataba al-Zimmi Pasallama, Yuradd ‘Alaihi (Bab Apabila Kafir Zimmi Menulis Surat Dengan Memberi Salam, Maka Dijawab Salamnya). Dalam bab ini dimuatkan kisah yang sahih di mana Abu Musa al-Asy’ari menulis surat kepada seorang paderi lalu memberi salam dalam surat itu. Maka dia ditanya: Adakah engkau memberi salam kepadanya, sedangkan dia kafir?. Jawab Abu Musa: “Dia telah menulis surat kepadaku dengan memberi salam, maka akupun menjawabnya”.
Riwayat-riwayat yang seperti ini sepatutnya dibaca oleh para ustaz atau sesiapa yang ingin membicarakan tajuk ini sebelum menghukum sesuatu pandangan sebagai menyeleweng. Malangnya di negara ini, sesetengah golongan agama tidak menjadikan fakta sebagai teras perbincangan, sebaliknya sentimen guru tradisionalnya yang jadikan ukuran kebenaran.
Adapun hadith-hadith yang menyuruh dijawab ‘wa ‘alaika’ (ke atas kamu) terhadap salam Yahudi ialah disebabkan orang Yahudi pada zaman Nabi s.a.w apabila memberi salam menyebut as-samu ‘alaikum yang bermaksud: maut atau kemusnahan ke atas kamu. Mereka cuma mengelirukan pendengaran orang Islam. Justeru itulah Nabi s.a.w menyuruh dijawab dengan ungkapan ‘wa alaikum’ sahaja. Perkara ini jelas disebut dalam hadith baginda: “Sesungguhnya Yahudi apabila memberi salam kepada kamu, sebenarnya dia menyebut: as-samu ‘alaika (maut atau kemusnahan). Maka kamu jawablah wa ‘alaika (ke atas kamu). (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Maka dengan ini jelas hadith ini mempunyai Sabab al-Wurud (sebab terbentuknya sesuatu hadith) yang tersendiri. Iaitu ia merujuk kepada suatu kejadian atau keadaan yang mana orang Yahudi memberikan ucapan salam secara mainan dan sendaan dengan diubah lafaz yang kedengarannya hampir sama, tetapi maksudnya amat berbeza. Dalam ertikata lain hadith ini bukan untuk semua keadaan.

Maka jika keadaan berbeza, di mana jika ada bukan muslim memberikan salam dengan cara yang betul serta tujuan yang betul pula iaitu untuk mengucapkan kesejahteraan kepada kita, maka hadith di atas tiada kaitan lagi. Apakah wajar untuk kita sebagai penganut agama yang membawa kesejahteraan dan rahmah, menolak ucapan baik orang lain dengan cara yang tidak sepatutnya?!!. Sudah pasti tidak wajar demikian. Apatah lagi dalam situasi Islam yang cuba dipandang serong oleh musuh-musuh yang mengelilingi umat. Tidak menjawab salam yang betul yang diberikan oleh bukan muslim yang tidak memerangi Islam sekurang-kurangnya telah tersasar dari mematuhi dua ayat al-Quran berikut:

Pertama: Surah al-Nisa: ayat 86: (maksudnya) “Dan apabila kamu diberikan penghormatan dengan sesuatu ucapan hormat, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya, atau balaslah dia (dengan cara yang sama). Sesungguhnya Allah sentiasa menghitung tiap-tiap sesuatu”.

Kedua: Surah al-Mumtahanah ayat 8-9, (maksudnya) “Allah tidak melarang kamu daripada berbuat baik dan memeberikan sumbangan harta kepada orang-orang yang tidak memerangi kamu kerana ugama (kamu), dan tidak mengeluarkan kamu dari kampung halaman kamu; Sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang Yang berlaku adil.9. Sesungguhnya Allah hanyalah melarang kamu daripada menjadikan teman rapat orang-orang yang memerangi kamu kerana ugama (kamu), dan mengeluarkan kamu dari kampung halaman kamu, serta membantu (orang lain) untuk mengusir kamu. dan (ingatlah), sesiapa yang menjadikan mereka teman rapat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”.

Justeru itu tokoh ulama hadith yang terkenal pada zaman ini, al-Syeikh Nasir al-Din al-Albani r.h. menyebut: “Ayat ini (Surah al-Mumtahanah ayat8) dengan jelas memerintahkan agar melakukan kebaikan dan keadilan kepada orang kafir warga negara Islam yang berdamai dan tidak menyakiti kaum mukminin. Tanpa syak lagi, jika seseorang di kalangan mereka memberi salam dengan menyebut secara jelas as-salam ‘alaikum , lalu kita menjawabnya sekadar wa ‘alaika, adalah sesuatu yang tidak adil dan meninggalkan sikap baik. Ini kerana kita telah mensamakan antara dia dengan orang yang mengucapkan as-samu ‘alaikum (maut atau kemusnahan ke atas kamu). Ini adalah kezaliman yang nyata”. (Nasir al-Din Al-Albani, Silsilah al-Ahadith al-Sahihah, 2/322, Riyadh: Maktabah al-Ma’arif :1995).

Di kalangan para ulama yang melarang menjawab salam pun, berpendapat jika keadaan memerlukan maka diboleh untuk menjawab. Mereka contohkan seperti bimbang disakiti atau berlaku perkara yang tidak baik. Saya katakan keadaan umat hari ini menuntut kita menjawabnya dari segi nas, juga realiti kehidupan. Islam sudah dihodohkan rupa parasnya yang indah oleh penganut dan penentang. Enggan membalas ucapan baik dengan ucapan yang baik juga hanya akan menambahkan contengan di wajah Islam yang kudus. Maka menjawab salam bukan Islam di zaman ini adalah suatu kewajiban dari segi nas dan tanggungjawab dakwah.

Melayu belum tonjol nilai Islam tulen

Dr. Mohd. Asri Zainul Abidin
Mufti Kerajaan Negeri Perlis.

http://drmaza.com/arkib_utusan/?p=24

Tiada keistimewaan jika bangsa tidak berpegang kepada akidah sebenar ISLAM adalah agama hebat yang mengajar penganutnya bersikap amanah dan tepat janji. Islam juga pentingkan kebersihan sehingga mensyaratkan kesucian dan kebersihan di dalam solat.
Diharamkan pula perkara yang keji atau jelik. Diharamkan mendatangi isteri ketika haid dan diharamkan bangkai dan kekotoran. Ini semua membimbing seorang hidup Muslim.

Firman Allah dalam menggambarkan ciri-ciri mukmin sejati: (maksudnya)
“Dan mereka yang menjaga amanah dan janjinya” (Surah al-Mu`minun :8)

Firman Allah berkaitan pengharaman perkara jelik (maksudnya):
“Iaitu orang-orang yang mengikut Rasulullah (Muhammad SAW Nabi yang Ummi, yang mereka dapati tertulis (namanya dan sifat-sifatnya) di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka. Ia menyuruh mereka dengan perkara-perkara yang baik, dan melarang mereka daripada melakukan perkara-perkara yang keji; dan ia menghalalkan bagi mereka segala benda yang baik, dan mengharamkan kepada mereka segala benda yang buruk; dan ia juga menghapuskan dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, dan memuliakannya, juga menolongnya, serta mengikut nur (cahaya) yang diturunkan kepadanya (al-Quran), mereka itulah orang-orang yang berjaya. (Surah al-’Araf :157)

Sabda RasululLah SAW, bermaksud: “Jauhilah neraka walaupun dengan (bersedekah) setengah biji tamar. Jika kamu tidak dapati, maka dengan perkataan yang baik”. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Dalam perniagaan jika roh dan semangat dibawa bersama, tentu orang Melayu yang beragama Islam akan maju. Kedai atau perniagaannya tentunya bersih, barangannya terjamin halal, tepati janji dan penampilannya di hadapan pelanggan memuaskan hati. Ia membawa keberkatan dan sekali gus dengan izin Allah kemajuan dalam perniagaannya. Malangnya, ramai Melayu tidak mengambil roh Islam dalam usahanya, sebaliknya ada yang percayakan kemunduran perniagaannya hanya kerana ‘buatan orang’ atau ‘angkara dibomohkan’.

Saya tidak menolak wujudnya sihirnya. al-Quran dan al-Sunnah mengakui kewujudannya dengan izin Allah. Namun setiap kali seseorang itu tidak laris atau bermasalah, dikaitkan dengan sihir yang sebahagian besarnya adalah dogengan bomoh, lalu dituduh orang itu dan ini. Beratus, mungkin beribu ringgit pula terpaksa dibelanjakan untuk menaja jampi penangkis daripada bomoh yang dianggap handal. Saya pernah ke sebuah kedai makan, lalu dia mengadu kepada saya bahawa kedainya kena sihir sehingga tidak laku. Saya secara kebetulan mempunyai sedikit sebanyak pengetahuan mengenai sihir dan cara mengatasinya, mendapati tiada kesan boleh dianggap begitu. Sebaliknya, apa yang saya dapati, pengurusannya lembab, kurang bersih dan makanannya tidak enak. Dia melupakan ini semua lalu menuding jari ke pihak lain.

Kalau benar ada bomoh yang hebat sehingga menyebabkan perniagaan orang lain bankrap, suruh saja dia bangkrapkan barang Amerika, tidak perlu nak boikot. Bagaimana mungkin dalam keadaan seperti ini orang Melayu ingin membawa Islam kepada orang Cina yang belum Muslim dan menceritakan Islam membentuk insan menjadi berkualiti. Sebaliknya, ramai peniaga cina jika dibandingkan dengan peniaga Melayu lebih berkualiti pengurusannya dan menampilkan ciri yang boleh dibangga oleh pelanggan. Sehingga ramai orang Melayu sendiri lebih percaya dalam banyak perkara kepada kualiti peniaga Cina daripada bangsanya sendiri. Di mana ‘Abd al-Rahman bin ‘Auf , yang selalu dicanangkan sebagai contoh kepada umat Islam dalam perniagaan?. Mungkin orang Cina yang majoritinya bukan Muslim lebih menghayati watak itu daripada Melayu.

Kebelakangan ini sudah agak ramai orang Melayu terbabit dengan perniagaan dan menghasilkan
keluaran sendiri. Namun jika kita perhatikan ia masih dalam lingkungan sama. Kebanyakannya keluaran orang Melayu masih berkaitan dengan ubat. Paling tidak dilupai ubat tenaga batin. Ada yang jual kismis jampi, kononnya dengan memakan akan jadi jadi cerdik dan bijak. Sebenarnya tiada satu hadis yang sahih menyebut demikian. Namun apa yang saya bimbang, orang akan menganggap orang Melayu kebelakangan ini penuh dengan pelbagai penyakit badan dan kelemahan akal. Di manakah tanggungjawab fardu kifayah untuk memenuhi umat jika perniagaan kita masih sekitar ‘tenaga batin?’.

Dalam ceramah agama ada juga ustaz Melayu masih lagi bermodalkan cerita dongeng dan kartun. Di samping riwayat Israiliyyat dan hadis palsu dibaca dalam masjid dan surau, mereka menokok tambah kejadian pelik untuk menarik perhatian pendengar. Cerita mayat jadi itu dan ini menjadi modal murahan. Dengan tidak dinafikan Allah mampu melakukan segala-galanya, namun sejarah menunjukkan Allah tidak bertindak kepada umat Nabi yang akhir seperti kepada umat yang sebelumnya. Kalau Allah mahu, tentu mayat Abu Jahal, atau Abu Lahab terlebih dulu menjadi contoh. Kedua-dua tokoh kekufuran itu, tidak juga mati terkejut atau kerana penyakit misteri disebabkan kejahatan mereka. Sebaliknya kaum Muslimin yang berjihad dan menghapuskan kedua-duanya di medan pertempuran.

Islam meminta usaha, bukan menunggu tindakan Allah tanpa usaha. Firman Allah mengenai cabaran musyrikin terhadap Nabi SAW, maksudnya:
Dan mereka berkata: “Kami tidak sekali-kali akan beriman kepadamu (wahai Muhammad), sehingga engkau memancarkan bagi kami mata air dari bumi. Atau (sehingga) engkau mempunyai kebun dari pohon-pohon tamar dan anggur, kemudian engkau mengalirkan sungai-sungai dari celah-celahnya dengan aliran yang terpancar terus-menerus. Atau engkau gugurkan langit berkeping-keping ke atas kami, sebagaimana yang engkau katakan (akan berlaku); atau (sehingga) engkau bawakan Allah dan malaikat untuk kami menyaksikannya. Atau (sehingga) engkau mempunyai sebuah rumah terhias dari emas; atau (sehingga) engkau naik ke langit; dan kami tidak sekali-kali akan percaya tentang kenaikanmu ke langit sebelum engkau turunkan kepada kami sebuah kitab yang dapat kami membacanya. Katakanlah (wahai Muhammad): “Maha Suci Tuhanku! Bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi Rasul?”. Dan tiadalah yang menghalang orang musyrik itu dari beriman ketika datang kepada mereka hidayah petunjuk, melainkan (keingkaran mereka tentang manusia menjadi Rasul, sehingga) mereka berkata dengan hairan: “Patutkah Allah mengutus seorang manusia menjadi Rasul?” (Surah al-Isra`: 90-94).

Demikian Baginda SAW sendiri mampu membuat apa yang dicabar tanpa keizinan Allah. Mereka meminta langit berkeping-keping turun ke atas kepada mereka, namun menjawab “Aku hanya seorang insan yang diutuskan menjadi rasul”. Allah SWT Yang Maha Bijaksana tidak pula memusnahkan kaum musyrikin dengan apa yang mereka minta, sebaliknya dijadikan kemusnahan mereka melalui sebab perjuangan golongan yang beriman. Apa yang pelik sesetengah ustaz atau penceramah agama itu membawa cerita yang jauh berbeza dengan tabiat sirah Nabi dan sahabat. Kononnya, orang ini mayatnya jadi begini kerana tidak datang masjid atau kerana terlalu kedekut dan seumpamanya. Yang ini pula tangannya lumpuh atau berpenyakit badan kerana tidak mahu pergi haji. Mereka mengandaikan perkara yang tidak pasti. Boleh jadi seseorang yang sakit itu kifarah Allah ke atasnya kerana dosa tertentu. Namun boleh jadi juga di atas hikmah yang lain. Ramai orang salih juga sakit.

Adapun cerita mayat jadi itu dan ini, kebanyakan andaian atau tokok tambah. Apa yang membimbangkan, ada media massa yang mengambil kesempatan lalu menjadikan tajuk sebegini sebagai penarik pembaca setiap keluarannya. Sehingga seorang Cina yang bukan Muslim membaca dan berkata: “Teruknya orang Melayu, mati macam-macam jadi. Kita orang Cina, Melayu cakap kafir pun tak jadi ini macam. Kalau macam ini tak boleh masuk Melayu punya agama laa. Bahaya! Nanti tuhan selalu marah punya, mati pun tak boleh senang”.
Nyata, kadang-kala Islam Melayu merosakkan kefahaman orang lain. Sepatutnya kesemua ustaz mengajar secara ilmiah dengan rujukan yang muktabar dan diyakini. Bukan mereka cipta atau mengutip cerita jalanan untuk popular.

Jumlah orang Melayu yang terbabit dengan dadah jauh lebih banyak daripada Cina. Sehingga saya begitu pelik, jumlah orang Melayu di Singapura lebih sedikit daripada orang cina, namun begitu, jumlah mereka yang terbabit dengan benda haram itu tetap dipegang rekodnya oleh orang Melayu. Bagaimana Islam hendak dikembangkan?. Banyak lagi kalau hendak diperkatakan. Sehinggakan saya terfikir, kalaulah Melayu tidak memiliki akidah Islam, tiada apa lagi yang istimewa untuk dibanggakan. Kalau orang Cina mendapat akidah Islam sahih, banyak perkara yang mereka miliki membantu kekuatan Islam. Justeru, menjadi tanggungjawab kita berusaha mengislamkan majoriti orang Cina. Biar mereka kuasai negara ini, asalkan mereka mukmin yang beriman kepada seluruh ajaran Islam. Dengan sedar saya katakan setiap bangsa ada kekurangan dan kelebihan. Bukan tidak ada sifat Melayu yang baik, banyak juga. Bukan tidak ada sifat Cina yang buruk, ada. Namun orang Melayu yang kebanyakan dianugerahkan Allah dengan agama Islam, sepatutnya menonjolkan ciri baik lebih jelas dan nampak dibandingkan orang Cina. Namun realiti menunjukkan sebaliknya.

Penulis adalah Mufti Kerajaan Perlis

Isu Denmark Dan Jihad Ekonomi

Dr. Mohd. Asri Zainul AbidinMufti Kerajaan Negeri Perlis.
http://drmaza.com/arkib_utusan/?p=28#more-28

Walaupun agak lama kita amat terluka melihat umat yang dipukul bertalu-talu. Namun apa yang berlaku kebelakangan ini, dapatlah menjadi sedikit pengubat bagi keperitan itu. Isu lukisan kartun yang menghina kekasih dan hati nurani umat ini iaitu baginda Nabi s.a.w telah membangkitkan kemarahan yang hebat. Ia bukan sekadar demonstrasi jalanan yang berakhir setelah letih menjerit dan habis kain bendera untuk dibakar.

Bahkan ia disertai dengan tindakan pemulauan barangan Denmark yang benar-benar memberikan kesan ekonomi kepada negara terkutuk itu. Allahu Akbar!!! Umat ini masih hidup rupanya. Kali ini bukan sahaja rakyat bawahan, bahkan kerajaan dan pemerintah umat Islam juga sudah berani bersuara.

Kerajaan Arab Saudi menjadi bintang yang bercahaya apabila mereka menarik balik duta dan memulaukan barangan Denmark. Rakyat Arab Saudi dan negara-negara Teluk yang lain memulaukan dengan serius barangan Denmark. Barangan negara keji itu dikeluarkan sendiri oleh empunya-empunya pasaraya dari rak-rak jualan mereka. Persoalan untung rugi harta sudah bukan keutamaan lagi apabila kekasih tercinta RasululLah dihina. Kaum muslimin di kebanyakan negara Arab menyahut seruan tersebut, khusus negara-negara Teluk yang kaya-raya. Ternyata ia amat berkesan. Ekonomi syarikat-syarikat Denmark yang berdagang dengan negara-negara umat Islam merudum jatuh. Sehingga syarikat-syarikat gergasi lain yang bukan dari Denmark terpaksa membuat pengemuman terbuka bahawa mereka bukan berasal dari Denmark.

Terbukti, umat ini sangat kuat jika bersatu hati. Kalaulah hanya ‘tidak membeli’ sahaja umat Islam boleh menggugat ekonomi sesebuah negara. Bagaimana jadinya jika kita ini negara pengeluar dan kuasa ekonomi yang ‘tidak ingin menjual’. Tentu kesannya lebih daripada itu. Namun apabila kita bercerai-berai kita menjadi lemah. Kita lemah kerana ramai di kalangan kita yang tidak berprinsip lantas tidak merasai kita satu ini satu juzuk dari umat Islam. Manusia yang tidak berprinsip akan mengukur setiap tindakan dengan habuan dunia semata. Prinsip hidupnya ‘apapun utamakan perut sendiri dulu’. Malang sekali jika kita tidak sensitif dengan isu Denmark, sedangkan rakyat Palestin dan Afghanistan sekalipun sentiasa dihimpit tetap bangun meluahkan rasa tidak puas hati mereka kepada dunia apabila Rasul yang mulia telah dihina. Arab Saudi paling hebat dalam kes ini dari segi kesan tindakan pimpinan negara dan rakyat. Walaupun mereka tidak buat sambutan maulid saban tahun sehebat kita, tetapi kesetiaan mereka lebih jelas. Sekalipun kita berarak maulid hebat saban tahun, namun kita tetap corot dari segi penampilan sikap. Ramai orang kita yang ‘tidak ambil tahu apa yang berlaku’. Barang kali ini boleh membezakan antara kecintaan yang tulen, dan penampilan kecintaan yang tidak berpijak atas asas yang kukuh.

Jika kuasa ekonomi dan harta digunakan dengan cara yang betul, memang banyak maruah dan harga diri umat dapat dibela. Kuasa ekonomi sangat penting. Namun yang lebih penting ialah akidah yang tulen yang memastikan kesetiaan kepada ALLAH dan RasulNya lebih dari kecintaan kepada harta. Jika tidak, yang bercakap pada ‘jihad ekonomi’ pun, takut hendak boikot barangan Denmark. Padahal ini sebahagian dari jihad ekonomi.

Justeru, sekalipun harta dunia sangat mustahak untuk kita miliki dan kuasai dalam persaingan era ini, tetapi harta tersebut hendaklah bersifat harta yang membela agama. Bukan mengganggu kesetiaan seseorang kepada agama. Dengan itu ALLAH menyebut dalam al-Quran: (maksudnya) “Katakanlah (wahai Muhammad): Jika bapa-bapa kamu, dan anak-anak kamu, dan saudara-saudara kamu, dan isteri-isteri (atau suami-suami) kamu, dan kaum keluarga kamu, dan harta benda yang kamu usahakan, dan perniagaan yang kamu bimbang akan merosot, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, - (jika semuanya itu) menjadi perkara-perkara yang kamu cintai lebih daripada Allah dan RasulNya dan (daripada) berjihad untuk ugamaNya, maka tunggulah sehingga Allah mendatangkan keputusanNya (azab seksaNya); kerana Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik (derhaka)” (Surah al-Taubah: 24)

Jelas, jika kita ingin memperkatakan perjuangan umat Islam di sudut ekonomi, kita mesti menyiapkan manusia berakidah murni terhadap ALLAH dan RasulNya. Hanya golongan ini yang akan jujur terhadap umat ini. Kaum yang wala`nya jelas kepada ALLAH, rasulNya dan masyarakat Islam. Firman ALLAH: (maksudnya) Wahai orang-orang yang beriman! Sesiapa di antara kamu berpaling tadah dari ugamanya (jadi murtad), maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Ia kasihkan mereka dan mereka juga kasihkan Dia; mereka pula bersifat lemah-lembut terhadap orang-orang yang beriman dan berlaku tegas gagah terhadap orang-orang kafir, mereka berjuang dengan bersungguh-sungguh pada jalan Allah, dan mereka tidak takut kepada celaan orang yang mencela. Yang demikian itu adalah limpah kurnia Allah yang diberikanNya kepada sesiapa yang dikehendakiNya; kerana Allah Maha Luas limpah kurniaNya, lagi Meliputi PengetahuanNya. Sesungguhnya Penolong kamu hanyalah Allah, dan RasulNya, serta orang-orang yang beriman, yang mendirikan sembahyang, dan menunaikan zakat, sedang mereka rukuk (tunduk menjunjung perintah Allah). Dan sesiapa yang menjadikan Allah dan rasulnya serta orang-orang yang beriman itu penolongnya (maka berjayalah dia), kerana sesungguhnya golongan (yang berpegang kepada ugama) Allah, itulah yang tetap menang. (Surah al-Maidah: 54-56)

Jika tidak, jadilah kita kumpulan manusia yang kaya raya dan dengan kekayaan itu kita makin meninggalkan agamanya. Kempen kepada “Jihad Ekonomi” mestilah bermula dari pengukuhan akidah para pejuangnya sebelum terjun ke medan yang sengit itu. Ini kerana, cabaran dan ujian harta lebih dahsyat daripada cabaran dan ujian senjata. Di medan jihad senjata lagikan ada yang terseleweng tujuannya kerana inginkan harta rampasan perang. Inikan pula mereka yang berjihad di medan ekonomi. Malangnya, kempen jihad ekonomi yang diperkatakan oleh sesetengah pihak, titik perjuangannya bermula dari ‘aku ingin kaya’. Tanpa dikaitkan dengan perjuangan umat dan kehidupan akhirat. Maka apabila dia kaya maka dia pun menderhakai ALLAH s.w.t. dengan hartanya.

Jika diandaikan kebanyakan umat Islam ini kaya, tetapi mereka tidak teguh akidahnya, Islam tetap akan lemah. Bahkan kekayaan itulah yang akan memusnahkan agama. Dengan kekayaan itu, berbagai projek munkar akan dihidupkan. Ini seperti sabda Nabi s.a.w: “Demi ALLAH bukan kefakiran yang aku takut menimpa kamu. Tetapi aku takut dibentangkan kepada kamu dunia seperti pernah dibentangkan kepada mereka yang sebelum kamu. Lalu kamu bersaingan mendapatkannya seperti mana mereka dahulunya bersaingan, lantas dunia itu memusnahkan kamu seperti ia telah memusnahkan mereka”. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).
Kelemahan akidah telah mengheret umat ini kepada segala macam kelemahan yang lain. Kata Muhammad Qutb: (Berpunca) daripada kemunduran akidah, timbullah segala macam kemunduran yang menimpa Dunia Islam..kemunduran ilmu, ketamadunan, ekonomi,peperangan, pemikiran dan kebudayaan (Muhammad Qutb, Waqi’una al-Mu‘asir, m.s. 172, Saudi: Muassasah al-Madinah)

Akidah adalah tunjang kepada segala bentuk jihad. Jihad tidak lain hanya bertujuan untuk menjadikan kalimah ALLAH yang paling tinggi. Bukan untuk kepentingan diri. Malangnya, apabila asas ini tidak jelas, kempen mengkayakan orang Islam hanya sekadar untuk memenuhi tembolok masing-masing semata. Nama Islam dan jihad telah disalahgunakan. Dalam hadith Abu Musa r.a: Seorang lelaki datang kepada Nabi s.a.w dan bertanya: “Seorang lelaki berperang untuk (mendapat) harta rampasan perang, seorang lagi berperang agar dipuji, seorang yang lain berperang untuk mengangkat kedudukannya. Siapakah yang berada dalam jihad pada jalan ALLAH? Sabda baginda: “Sesiapa yang berperang agar kalimah ALLAH menjadi yang paling tinggi maka dia berada pada jalan ALLAH”. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Dunia hari ini sudah berubah dibandingkan dahulu. Bukan hanya kekuatan persenjataan yang menentukan penguasaan sesuatu bangsa atau negara itu terhadap percaturan dunia. Bahkan ekonomi juga memainkan peranan penting dalam menentukan percaturan dunia. Firman Allah:(maksudnya): Dan sediakanlah untuk menentang mereka (musuh-musuh Islam) dengan apa yang kamu mampu dari segala jenis kekuatan dan dari pasukan-pasukan berkuda yang disiapkan, untuk menggerunkan musuh Allah dan musuh kamu, serta musuh-musuh yang lain dari mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Dan apa sahaja yang kamu belanjakan pada jalan Allah akan disempurnakan balasannya kepada kamu, dan kamu tidak akan dianiaya. (Surah al-Anfal: 60)

Ayat ini adalah perintah Allah untuk muslimin menyediakan kekuatan menghadapi musuh-musuh umat. Kekuatan yang mesti disiapkan itu ialah dari jenis apa sahaja yang mampu menggerunkan musuh. Kuda adalah salah satu daripadanya yang dapat dilihat oleh manusia di zaman penurunan al-Quran dan juga selepas itu. Pada zaman sekarang dari segi persenjataan, senjata-senjata canggih yang wujud pula menduduki tempat tugasan menggerunkan musuh. Maka umat Islam mesti berusaha menyiap dan memilikinya. Di samping itu, kekuatan ekonomi juga adalah senjata baru dalam membina kekuasaan di era moden. Kekuatan ekonomi mampu membawa kepada hasrat yang sama iaitu menggerunkan musuh. Maka membina kekuatan ekonomi di zaman ini adalah satu tuntutan agama.

Namun seperti yang dijelaskan tadi, ia hendaklah berpaksikan akidah Islam yang tulen yang akan mewarnai segala tidakan kita. Kekuatan kita bergantung sepenuhnya dengan sejauh mana kita berpegang dengan Islam. Tanpa pertolongan ALLAH yang menurunkan Islam untuk manusia, mustahil kita dapat keluar dari kehinaan hidup dan kejatuhan maruah di pentas dunia hari ini. benarlah ucapan ‘Umar ibn Khattab:“Kita dahulunya adalah kaum yang hina, Allah telah memuliakan kita dengan Islam, andainya kita mencari kemuliaan selain dari apa yang telah Allah muliakan kita dengannya maka kita akan dihina oleh Allah” (Riwayat ini sanadnya disahihkan oleh al-Hakim dan disokong oleh al-Dhahabi. Lihat: Al-Hakim, al-Mustadrak, 1/237, cetakan Dar al-Ma’rifah, Beirut.)

Abu al-Hasan ‘Ali al-Nadwi dalam bukunya Kaif Dakhala al-‘Arab al-Tarikh menggambar betapa Arab sebelum kedatangan Islam hidup dalam keadaan terpencil dari pentas sejarah. Sekalipun pada Arab itu ada ciri-ciri yang baik dan akhlak yang mulia. Mereka memiliki keberanian dan kepandaian dalam senjata, juga tunggangan kuda. Mereka mempunyai bahasa yang tinggi nilainya, indah dan baik. Malangnya kesemua itu tidak mampu membawa mereka ke persada sejarah yang gemilang. Namun mereka akhir berjaya memasuki pentas sejarah apabila mereka menjadi pembawa risalah dan hidayah. Sehingga al-Nadwi menyatakan: “Hendaklah orang Arab ketahui bahawa mereka tidak memasuki (pentas) sejarah kecuali dengan jalan risalah Islam dan dakwah islamiyyah. Allah tidak menumbuhkan kecintaan (orang lain) kepada mereka dalam jiwa dan hati, tidak tersebar bahasa mereka dengan sebegini luas, ia tidak kekal dan abadi, tidak ditulis dengannya ilmu yang banyak, tidak terbentuk dengannya perpustakaan yang begitu besar yang mana ulama bukan Arab mendapat habuannya lebih dari orang Arab sendiri, kecuali dengan sebab kelebihan al-Quran dan syariat Islam. Orang Arab tidak akan kembali kepada kedudukan mereka yang awal dan tidak akan memasuki (pentas) sejarah sekali lagi melainkan melalui pintu yang mereka masuk pada awalnya” (Al-Nadwi, Kaif Dakhala al-‘Arab al-Tarikh, m.s 26, India: Al-Majma’ al-Islami al-‘Ilmi)

Daripada akidah yang tulen lahirnya rasa ukhuwwah sesama muslim yang menggerakkan ekonomi dan kekuatan umat. Daripada akidah yang teguh dapat dibentuk sikap bertanggungjawab terhadap seluruh strategi yang diatur demi membangunkan umat. Tanpa akidah hilanglah ikatan persaudaraan atau ukhuwwah Islamiyyah yang menjadi penggerak kepada pembangunan ekonomi.

Sekiranya kesedaran akidah dan ukhuwwah islamiyyah mengenai tanggungjawab bantu membantu membangunkan ekonomi umat ini berjaya diterapkan, maka peluang ke arah menjayakannya di peringkat pelaksanaan adalah terbentang luas. Ini saya katakan berdasarkan faktor-faktor berikut:

i. Kuasa Membeli Yang Tinggi

Jumlah umat Islam yang banyak membawa kepada secara kelompok mereka memiliki kuasa membeli yang tinggi. Lihat sahaja kuasa membeli ini apabila digunakan dalam isu Denmark. Ini kerana jumlah umat yang banyak menjadikan keperluan barangan dan makanan mereka juga tinggi. Jika kuasa membeli ini dialirkan kepada membeli barangan yang dihasilkan oleh umat Islam sendiri, tentulah berlakunya kitaran ekonomi yang kuat di kalangan masyarakat Islam tempatan dan antarabangsa

ii. Sentimen Agama

Isu-isu seperti kebiadapan Barat, sikap anti-Islam mereka, pencerobohan ke atas negara umat Islam, mengenai makanan tidak halal dan seumpamanya telah menimbulkan keresahan kebanyakan umat Islam yang sensitif dengan penghinaan terhadap mereka. Umat Islam dipermainkan kerana mereka bergantung kepada orang lain dalam menghasilkan keperluan mereka. Dalam isu halal umpamanya, kesempatan ini boleh diambil agar memastikan keselamatan umat Islam dalam soal makanan. Maka kita menggesa mereka menggunakan produk muslim yang seakidah dengan mereka. Bahkan kita boleh mencadangkan agar bukan sahaja logo halal dikeluarkan, sebaliknya kita keluarkan logo yang melambang produk muslim-halal. Dengan itu wang umat kembali dialirkan ke tangan umat sendiri.

iii. Ketengangan Yang Wujud

Ketegangan yang wujud sekarang antara Blok Barat dan Umat Islam boleh membantu ke arah mewujudkan umat yang lebih memiliki jatidiri dan berdikari. Orang Islam khasnya arab rasa tidak lagi selamat berada di negara Barat. Mereka mula merubah arah ke negara-negara seperti Malaysia. Jika pelancong-peloncong Arab ramai yang enggan ke Barat lagi, mengapa tidak kita jadikan mereka juga hanya ingin membeli produk saudara muslim mereka sahaja.

iv. Banyak Ruang Belum Diterokai

Walaupun agak banyak produk muslim yang diwujud di pasaran, namun secara perbandingan kita masih ketinggalan jauh. Jika kesedaran yang ingin kita pupuk itu berjaya, ruang menghasilkan berbagai produk terbuka luas peluangnya untuk setiap muslim. Sehingga hari ini kita belum memiliki satu pasaraya yang memasarkan hanya barangan keluaran muslim. Jika ini dapat dijayakan, hasrat ke arah pembinaan kekuatan ekonomi muslim tempatan dan antarabangsa bertambah mudah.

Dalam perkara ini saya sering memetik kata-kata Maulana Abu Hasan ‘Ali al-Nadwi r.h. yang mengkritik dunia Arab dalam tulisannya dengan menyatakan: “Mestilah bagi dunia Arab sebagai dunia Islam bebas (memiliki sendiri) dalam perniagaan, harta, industri dan pendidikan. Bangsa mereka tidak boleh memakai melainkan apa yang tumbuh di buminya dan ditenun dengan tangannya…sesungguhnya dunia Arab tidak dapat dapat memerangi Barat- jika keadaan memerlukan demikian- selagi meraka memerlukan Barat dalam soal harta, pakaian dan barangan. Tidak ada pena yang digunakan untuk menandatangani sesuatu perjanjian dengan Barat, melainkan pena tersebut dibuat di Barat. Tidak ada senjata yang digunakan untuk memerangi Barat, melainkan senjata itu dibuat di Barat. Sesungguhnya adalah memalukan apabila umat Arab tidak dapat mengambil manfaat daripada sumber kekayaan dan kekuatan mereka sendiri. Adalah memalukan apabila air kehidupan yang mengalir di dalam urat mereka akhirnya sampai ke tubuh orang lain”.( Abu Hasan `Ali al-Nadwi, Maza khasira al-`Alam bi Inhitat al-Muslimin, m.s. 416, cetakan: Maktab al-Sunnah, Kaherah)

Dr. Yusuf al-Qaradawi mengeluh perkara yang sama dengan katanya: “Kekuatan ekonomi kita terbengkalai. Kita hidup di bumi Allah yang paling strategik, paling baik dan subur. Bumi yang paling banyak galian yang tersimpan dalam perutnya dan kekayaan yang bertebaran di atasnya. Malangnya kita tidak menggerakkan kekayaan kita, tidak bertani di bumi kita, tidak menghasilkan keluaran dari galian sedangkan bahan mentahnya dikeluarkan dari bumi kita…jadilah kita dalam banyak keadaan pengguna bukan pengeluar, pengimpot bukan pengilang. Kadang kala kita menghasilkan produk yang kita tidak memerlukannya dan kita abai menghasilkan barangan yang sangat kita perlukan. Kita berbangga dengan memiliki kereta–kereta mewah antarabangsa, sedang kita tidak tahu untuk membuat basikal sekalipun”. (Dr. Yusuf al-Qaradawi, Aina al-Khalal, m.s.12-13, cetakan Muassasah al-Risalah, Beirut)
Jihad Ekonomi hendaklah bertunjangkan akidah dan arahnya membina kekuatan umat atas acuan Islam yang tulen!!!.

Kita tidak menghukum tetapi menyatakan kaedah

Posted on Jan 02, 2008 under Isu Semasa
Dr. Mohd. Asri Zainul AbidinMufti Kerajaan Negeri Perlis.
http://drmaza.com/arkib_utusan/?p=27#more-27

Datang seorang wanita yang tidak menutup aurat bertanya kepada saya; “Dr! adakah saya masuk neraka kerana saya tidak menutup aurat, sedangkan saya solat dan melakukan ibadah-ibadah yang lain?”. Saya beritahu kepadanya: “Adapun saya bukanlah malaikat penjaga neraka. Bahkan malaikat penjaga neraka sendiri tidak berhak menentukan siapa yang akan dimasukkan atau dikeluarkan dari neraka.

Ini adalah kekuasaan mutlak Tuhan Yang Menciptakan neraka. Di akhirat neraka dimasuki oleh sesiapa yang ditentukan ALLAH sebagai ahli neraka. Demikian juga syurga. Namun ALLAH memberitahu tentang keadaan manusia di akhirat dengan firmanNya (bermaksud) : “adapun orang yang berat timbangan (amal baiknya), Maka ia berada dalam kehidupan yang senang lenang. Sebaliknya orang yang ringan timbangannya (amal baiknya), Maka tempat kembalinya ialah “Haawiyah”, Dan apa jalannya engkau dapat mengetahui, apa dia “Haawiyah” itu? (Haawiyah itu ialah): api yang panas membakar” (Surah al-Qariah 6-11).

Adapun saya yang dhaif ini tidak mengetahui bagaimanakah timbangan amalan saudari di akhirat kelak. Bahkan nasib saya sendiri saya tidak tahu, bagaimana mungkin saya boleh tahu nasib orang lain?!! Namun jika saudari bertanya saya, adakah perbuatan saudari salah atau betul?

Tentu jawapannya: ia satu kesalahan. Apakah perbuatan itu faktor yang membawa ke syurga atau ke neraka?…….. Maka jawapan “dalil-dalil al-Quran dan al-Sunnah menunjukkan ke neraka”. Namun timbangan amalan insan di akhirat bukan hanya terbatas kepada suatu bab sahaja. Ia merangkumi segala bentuk kebaikan dan keburukan.
“Sesiapa beramal dengan kebaikan seberat biji sawi akan dinilai. Sesiapa yang beramal dengan seberat biji sawi keburukan juga akan dinilai”. Kemudian jika natijah dari nilaian itu menunjukkan kebaikan lebih berat dari kejahatan, maka selamatlah dia. Jika sebaliknya, rugilah dia. Dalam hidup ini, ada pula ujian dan cubaan. Sesiapa yang sabar dengan ujian dan cubaan, diberi pahala dan dihapuskan dosa. Kesalahan orang kepada kita juga menjadikan pahalanya dipindahkan kepada kita, atau dosa kita diberikan kepadanya -seperti dalam hadith al-Imam Muslim.

Maka keputusan neraka dan syurga adalah hak ALLAH terhadap hamba-hambaNya. Apa yang pasti dosa menyumbang ke arah neraka. Pahala menyumbang ke arah syurga. Jika ditanya membuka aurat, riba, derhaka ibubapa dan seumpamanya ke arah mana? Jawapannya ke arah neraka. Jika ada yang berkata, mereka ini juga solat dan buat baik dalam perkara yang lain. Kita katakan; amalan baik menuju ke syurga. ALLAH yang Maha Adil akan menimbangnya dan menentukannya.

Demikian semua insan. Padanya ada baik dan buruk. Amalan kita akan ditimbang di akhirat kelak. Saya timbulkan ini kerana ada juga orang bertanya saya tentang hadith: “..Sesungguhnya sesiapa yang hidup selepasku akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kamu berpegang dengan sunnahku dan sunnah al-Khulafa al-Rasyidin al-Mahdiyyin (mendapat petunjuk). Berpeganglah dengannya dan gigitlah ianya dengan geraham. Jauhilah kamu perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama), kerana setiap yang diada-adakan itu bid’ah dan setiap yang bid’ah itu sesat”. (Hadith ini sahih. Diriwayatkan oleh Abu Daud, al-Tirmizi dengan menyatakan ianya “hasan sahih”, Ibn Majah dan al-Darimi dalam sunan mereka. Demikian juga Ibn Hibban dalam sahihnya dan al-Hakim dalam dalam al-Mustadrak dengan menyatakan: “Hadith ini sahih”. Ini dipersetujui oleh al-Imam al-Zahabi).

Katanya: “Jika bid’ah masuk neraka, apakah datuk nenek kita dan sebahagian golongan agama akan masuk neraka disebabkan beberapa perkara bidah yang mereka lakukan”. Saya katakan; pertama hadith ini sahih, maka kita jangan mempersenda-sendakannya. Kedua, seperti yang disebut tadi; sesiapa yang berat amalan baiknya maka dia masuk syurga.

Begitu sebaliknya. Adapun bid’ah bukan pembawa ke arah syurga. Kita mengharapkan bagi mereka amalan soleh yang jauh lebih besar dari kesilapan mereka. Dengan itu beratlah kebaikan mereka melebihi kesalahan mereka. Keempat, kita disuruh oleh agama untuk bersangka baik dengan muslim yang lain. Justeru, kita katakan; mungkin mereka tidak tahu, atau menyangka ia sunnah walaupun sebenarnya tidak. ALLAH Maha Mengampuni hamba-hambaNya.

ALLAH berfirman (maksudnya): Allah tidak memberati seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya. Ia mendapat pahala kebaikan yang diusahakannya, dan ia juga menanggung dosa kejahatan yang diusahakannya. (Mereka berdoa dengan berkata): “Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau mengirakan kami salah jika kami lupa atau kami tersalah. Wahai Tuhan kami ! Janganlah Engkau bebankan kepada kami bebanan yang berat sebagaimana yang telah Engkau bebankan kepada orang-orang yang terdahulu daripada kami. Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tidak terdaya memikulnya. Dan maafkanlah kesalahan kami, serta ampunkanlah dosa kami, dan berilah rahmat kepada kami. Engkaulah Penolong kami; oleh itu, tolonglah kami untuk mencapai kemenangan terhadap kaum-kaum yang kafir”. (Surah al-Baqarah: 286).

Kita mendoakan keampunan mereka, namun dalam masa yang sama kita tidak boleh menyatakan kepada diri kita bahawa kesalahan yang dibuat itu betul. Bahkan kita mesti menghindari kesilapan yang lalu setelah sampai kepada kita ajaran al-Kitab dan al-Sunnah. Kita menyampaikan hukum ALLAH dan kaedah agama. Kita tidak menghukum individu. Jika kita ditanya apakah hukuman terhadap pencuri dalam perundangan Islam. Kita jawab: Dalam hukum Islam pencuri dipotong tangannya. Namun jika dia bertanya adakah si A boleh saya potong tangannya kerana saya lihat dia mencuri. Kita katakan: Tidak! Sehingga melalui proses perbicaraan yang dituntut oleh syarak. Apa yang saya beritahu ‘pencuri dipotong tangan’ ialah kaedah.

Adapun perlaksanaan memerlukan penelitian yang lebih. Bidah, khurafat, riba, arak adalah pembawa kepada jalan neraka. Sesiapa yang mengamalkannya, menuju ke neraka. Ini adalah kaedah umum. Namun apabila hendak memutus si fulan ahli neraka. Tiada siapa yang berhak. Ini kerana kita tidak tahu amalannya yang lain, taubatnya, istighfarnya, dan kemaafan ALLAH untuknya.

Hal ini perlu dijelaskan untuk dua pihak. Pertama mereka yang tidak faham tentang maksud kaedah-kaedah yang disampaikan lalu menuduh yang bukan-bukan. Kedua kepada golongan pendakwah sendiri yang terlalu cepat menghukum individu tanpa penelitian. Jadilah kita bagaikan khawarij. Atau pro-khawarij di zaman ini yang cepat mengkafirkan muslim yang lain. Justeru kita perlu ingat, sikap tergopoh-gapah menghukum sebelum mengetahui latarbelakang orang dicegah atau disuruh adalah perbuatan yang salah. Golongan yang gopoh ini akan menghukum dengan hukuman kafir atau sesat tanpa terlebih dahulu memahami masalah. Bahkan mungkin mereka sendiri tidak faham hukum-hakam tersebut dengan jelas. Sedangkan mereka lupa, tidak semua maksiat membawa kepada kekufuran. Tidak semua pula perbuatan dan ucapan kufur menjadikan pelakunya kafir.

Demikian tidak semua perbuatan bid’ah menjadikan pembuatnya ahli bid’ah. Kata Ibn Taimiyyah: “Sesungguhnya sesuatu ucapan menjadi kufr seperti mengingkari kewajipan solat, zakat, puasa dan hajj. Namun pengucapnya mungkin tidak sampai kepada khitab (ajaran yang betul dalam perkara tersebut), maka tidak dikafirkan dia disebabkan keingkarannya. Ini seperti mereka yang baru menganut Islam dan hidup di daerah pendalaman yang jauh dan tidak sampai kepadanya syariat-syariat Islam”( Ibn Taimiyyah, Majmu’at al-Fatawa, 2/220).

Di tempat yang lain beliau menyebut: “Sesiapa yang menghadiri majlisku mengetahui, sesungguhnya aku adalah manusia yang paling membantah menyandar seseorang individu kepada kekafiran, atau kefasikan, atau kemaksiatan, melainkan setelah ditegakkan hujah dan dalil yang menunjukkan sesiapa yang menyanggahinya (dalil tersebut) menjadi kafir, atau fasiq, atau ahli maksiat. Sesungguhnya aku bertegas bahawa ALLAH mengampuni kesilapan umat ini. Ini merangkumi pemasalahan akidah dan amalan” (Ibid, 2/147).

Al-Qaradawi menyebut: “Hendaklah diberikan perhatian apa yang telah diputuskan oleh para `ulama muhaqqiqun mengenai wajibnya dibezakan antara peribadi dan jenis dalam isu takfir (mengkafirkan). Ini bermaksud, contohnya kita katakan “Golongan komunis itu kafir, atau para pemerintah sekular yang membantah hukum syarak itu kafir, atau sesiapa yang menyatakan sebegini atau menyeru kepada ini maka dia kafir. Ini semua adalah hukuman pada jenis. Adapun apabila perkara ini berkait dengan peribadi seseorang, yang disandar kepada mereka itu dan ini, maka wajiblah diambil masa untuk dibuat kepastian dan kesabitan mengenai hakikat sebenar pendiriannya. Ini dengan cara menyoal atau berbincang dengannya sehingga ditegakkan hujjah, tiada lagi syubhat dan juga tiada lagi keuzuran untuknya.

Perkara ini pernah disebut oleh Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah: Sesungguhnya perkataan boleh menyebabkan kufur. Secara umumnya dikafirkan pengucapnya. Dikatakan “Sesiapa yang mengucap begini maka dia kafir”. Tetapi peribadi berkenaan yang mengucapkannya tidak dihukum dengan kafir sehingga ditegakkan hujjah yang membukti kuffur sesiapa yang meninggalkannya (meninggalkan berpegang dengan hujjah yang jelas tersebut-pen)” (Al-Qaradawi, Zahirah al-Ghulu fi al-Takfir, m.s. 26-27, Mesir: Maktabah Wahbah (1989).
Keadaan manusia ini berbagai-bagai, ada di kalangan mereka yang membuat kesalahan kerana terlupa, atau jahil atau terdesak. Kita hendaklah memahami latarbelakang yang berbagai ini sebelum menghukum. Sikap ini telah ditunjukkan oleh Nabi s.a.w dalam tindakan-tindakan baginda, antaranya, daripada ‘Ali bin Abi Talib, katanya: “Rasulullah telah mengutuskan aku, Abu Marthad dan al-Zubair-kami semua adalah penunggang kuda- baginda bersabda: Pergilah kamu semua sehingga sampai ke Raudah Khakh, sesungguhnya di sana ada seorang perempuan dari kalangan Musyrikin, bersamanya surat dari Hatib bin Abi Balta`ah kepada Musyrikin”. Maka kami pun mendapatinya, dia menaiki unta sepertimana yang dikatakan oleh Rasulullah s.a.w. Kami berkata kepadanya: “Surat!”. Dia menjawab: “Tidak ada bersama kami sebarang surat”. Maka kami pun menduduk dan memeriksanya. Namum kami tidak dapati sebarang surat pun. Kami berkata: “Rasulullah tidak pernah berdusta, sama ada engkau keluarkan surat tersebut atau kami akan telanjangkan engkau!”. Apabila dia melihat kesungguhan kami maka dia pun terus mendapatkan simpulan kainnya. Dia pun mengeluarkan surat tersebut, lalu kami terus membawa surat itu kepada Rasulullah s.a.w. Kata `Umar: “Wahai Rasulullah!, sesungguhnya dia (Hatib bin Abi Balta`ah) telah mengkhianati Allah, RasulNya dan orang-orang Mukminin, biarkan aku pancung kepalanya!”. Baginda bersabda (kepada Hatib): “Apa yang mendorong tindakanmu?”. Kata Hatib: “Demi Allah! Bukan aku tidak beriman kepada Allah dan RasulNya s.a.w. tetapi aku ingin mendapat bantuan di sisi kaum (Quraish) yang dengannya Allah akan menyelamatkan keluargaku dan hartaku. Tidak ada seorang pun di kalangan sahabatmu melainkan baginya di sana kaum kerabat yang mana dengannya Allah selamatkan keluarga dan hartanya”. Sabda baginda: “Dia benar! Janganlah kamu berkata kepadanya melainkan yang baik”. `Umar berkata: “Sesungguhnya dia telah mengkhianati Allah, RasulNya dan orang-orang mukminin, biarkan aku pancung kepalanya”. Baginda bersabda: “Tidakkah dia di kalangan anggota Perang Badar?”. Sabdanya lagi: “Mudah-mudahan Allah melihat kepada ahli Perang Badar dan berfirman “ buatlah apa yang kamu suka sesungguhnya telah pasti untuk kamu syurga atau Aku telah ampuni kamu semua”. Maka menangislah ‘Umar seraya berkata Allah dan RasulNya lebih mengetahui . (Riwayat al-Bukhari)

Lihat bagaimana baginda meraikan keadaan terdesak yang dihadapi oleh Hatib. Baginda tidak terus menghukumnya sebelum mengetahui keadaannya. Demikian juga kita lihat sikap baginda dalam kes-kes yang lain. Maka kita dalam banyak hal dituntut agar cuba memahami keadaan orang yang kita dakwah. Kita mesti membezakan antara kaedah dan hukuman. - Al-Qayyim

Biar miskin harta jangan miskin jiwa

Dr. Mohd. Asri Zainul Abidin
Mufti Kerajaan Negeri Perlis.
http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2008&dt=0601&pub=Utusan_Malaysia&sec=Bicara_Agama&pg=ba_01.htm

Ramai orang tidak dapat membezakan antara keseronokan dengan kebahagiaan atau ketenangan jiwa. Atau mungkin mereka tidak pernah menikmati kebahagiaan, sekalipun seringkali mengecapi keseronokan. Begitu ramai penghibur yang bertaraf lima bintang yang berjaya menjadikan ribuan peminatnya bersorakan gembira apabila melihat pertunjukannya, tetapi dia sendiri tidak bahagia. Maka tidak hairanlah jika ramai artis ternama terlibat dengan dadah dan hidup dalam tekanan. Sesungguhnya keseronokan bukan semestinya kebahagiaan atau ketenangan jiwa. Sesiapa yang kita lihat Allah tidak merezekikan kepadanya keseronokan atau kegembiraan tertentu, bukanlah bererti Allah tidak memberikan kepadanya ketenangan jiwa. Maha luas kurniaan Allah, betapa ramai orang yang kurang harta dan rupa, tetapi lebih bahagia daripada yang hartawan dan rupawan.

Bukan semestinya seorang raja, presiden, perdana menteri dan menteri itu lebih bahagia perasaan dan jiwanya dari seorang guru yang tidak dipagari pengawal, tidak dikenali ramai melainkan murid-muridnya yang masih mentah dan terpencil. Entah berapa ramai mereka yang berjawatan besar itu yang jauh lebih serabut perasaan dan jiwa mengenangkan masa depan kedudukan, pengikut dan nasibnya. Lebih daripada keserabutan ribuan manusia yang lain. Mungkin meja makan orang besar itu hebat, layanannya istimewanya, makanannya mahal, tempat tidurnya enak, kenderaannya mewah, sorak-sorai untuknya meriah, tetapi kebahagiaan dan ketenangan jiwa belum tentu muncul di celahan itu semua. Bahkan, berapa ramai manusia dalam dunia ini yang Allah azabkan mereka menerusi harta dan anak pinak mereka. Firman Allah mengenai golongan munafik: (maksudnya) “Oleh itu, janganlah engkau tertarik hati kepada harta benda dan anak-anak mereka, (kerana) sesungguhnya Allah hanya mahu menyeksa mereka dengan harta benda dan anak-anak itu dalam kehidupan dunia” (Surah al-Taubah: ayat 55). Islam bukan memusuhi harta, tanpa harta bukan punca sebenar ketenangan jiwa.

Ramai insan apabila tidak memahami kebesaran Allah menyangka bahawa harta dan kuasa adalah segala-galanya. Lalu dia menganggap sesiapa yang tidak kaya raya dan berkuasa tidak mendapat kurnia kebahagiaan daripada Tuhan. Seakan kurniaan Tuhan itu hanya tertumpu kepada empunya kuasa dan harta. Anggapan ini teramat silap. Ya! Harta dan kuasa boleh menjadi faktor yang membawa ketenangan dan kebahagiaan jiwa ia dikendalikan dengan betul. Namun, jika tidak ia boleh bertukar menjadi punca derita dan sengsara. Entah berapa ramai penguasa atau si kaya yang tidak dapat tidur lena dalam istana mewahnya, ketika si miskin sedang berdengkur menikmati nikmat tidur dalam rumah usangnya. Entah berapa ramai penguasa atau si kaya yang tidak berselera makan di hadapan hidangan mewahnya ketika si miskin dengan begitu enak menikmati sebungkus nasi yang dibalut dengan daun pisang. Maha Agung Allah swt, Dia memberi kurnia nikmatNya dengan pelbagai cara dan tanpa diduga.

Saya teringatkan satu ceramah Buya Hamka r.h. dalam satu rakaman. Beliau menceritakan bagaimana suatu hari ketika beliau menaiki kenderaan mewah dengan seorang kaya melalui sawah padi, tiba-tiba melihat seorang petani yang berehat dari kepenatan bekerja, sambil isterinya menghidangkan makan tengahari. Walaupun hidangan itu amat biasa sahaja, tetapi dimakan oleh petani tadi dengan penuh selera. Lalu orang kaya yang bersama Buya Hamka berkata: “Buya, saya ada rumah besar dan kenderaan mewah, tetapi tidak pernah berpeluang makan begitu berselera seperti petani itu”. Ya! Demikianlah Allah membahagi-bahagikan nikmat-Nya. Sesiapa yang diberikan makanan yang hebat, belum tentu dapat menikmati keenakan itu di lidahnya. Sesiapa yang diberikan tempat tinggal yang mewah, belum tentu dikurniakan kenikmatan tinggal di dalamnya. Maka, tidak hairan jika ada orang kaya, atau yang berkuasa kurang selera makan. Atau tidak hairanlah jika ada anak si kaya yang lari meninggalkan rumah mewah bapanya. Janganlah pula hairan, jika ada orang miskin yang setiap hari menikmati suapan yang masuk ke dalam mulutnya, dan nyenyak tidurnya. Janganlah pula hairan jika ada perasaan yang lebih mengenang pondok usang dari banglo yang tersergam. Sekali lagi, Islam bukan musuh harta, namun insan hendaklah tahu bersyukur atas segala kurniaan Allah kepadanya. Yang miskin dan yang kaya hendaklah insaf bahawa tujuan daripada makanan dan tempat tinggal yang mewah itu adalah kesedapan dan keselesaan. Bukan semua yang memiliki kemewahan itu pula akan menikmatinya. Juga bukan semua tidak memilikinya, akan terhalang mengecapi kenikmatannya. Maha Besar Allah yang membahagi-bahagikan kurniaan-Nya mengikut kehendak-Nya.

Kadang-kala apabila kita duduk di meja makan bersama orang kaya besar dan orang biasa. Kita lihat si kaya minum air kosong sahaja, ditanya kenapa? Jawabnya, “Saya ada diabetis”. Dia enggan makan kebanyakan lauk yang dihidangkan, katanya, “Saya ada sakit jantung dan darah tinggi”. Sementara ‘yang biasa-biasa di sebelahnya, makan dengan enak tanpa sebarang pantang. Ya, memiliki sesuatu, belum tentu dapat menikmatinya. Untuk minum air kosong dan nasi kosong tidak memerlukan harta yang banyak. Juga air kosong dan nasi kosong biasanya merupakan makanan si miskin yang tidak mampu memiliki. Jika Allah mahu, orang yang berada di tengah kemewahan akan hidup bagaikan si miskin di tengah kefakiran. Sekali lagi, Islam bukan musuh harta, tetapi insan wajib insaf bahawa hanya Allah yang menentukan segala kurniaan. Maka jangan kita sombong atas apa yang kita kelihatan memilikinya, dan janganlah pula kita berdukacita atas apa yang tidak Allah kurniakan kepada kita. Entah berapa banyak nikmat yang telah Allah kurniakan kepada kita, kita tidak menyedarinya. Entah betapa banyak nikmat yang Allah halang orang lain merasainya, kita sangka mereka mengecapinya.

Saya bawakan mukadimah yang panjang ini supaya kita semua insaf bahawa pergantungan sebenar dalam kehidupan ini hanya Allah. Maka, jangan kita menjadi hina jiwa ini di hadapan orang lain hanya kerana melihat kuasa dan harta yang berada di tangannya lalu kita sangka mereka memiliki segala-gala. Jikapun kita kurang harta dan kuasa, janganlah kita miskin jiwa.
Apa yang ingin kita buru daripada kehidupan ini adalah ketenangan jiwa dan kebahagiaan perasaan. Bukan sekadar keseronokan atau kegembiraan yang berakhir dengan tamatnya sesuatu pesta atau sorakan semata. Jika kebahagiaan dan ketenangan yang kita pilih, maka yang dapat memberinya hanyalah Allah. Memiliki harta dan kuasa belum tentu dapat mencapainya. Maka jangan kita mengemis kepada penguasa atau si kaya dalam mencari ketenangan hidup. Merintihlah kepada Allah, hanya Dia yang dapat menganugerahkan kita semua itu. Firman Allah: (maksudnya “Sesiapa yang beramal soleh, sama ada lelaki ataupun perempuan, dalam keadaan dia beriman, maka sesungguhnya Kami akan menghidupkannya dengan kehidupan yang baik; dan sesungguhnya Kami akan membalas mereka, dengan memberikan pahala yang lebih daripada apa yang mereka telah kerjakan” (Surah al-Nahl: ayat 97).

Ramai orang yang kita lihat kaya harta, tetapi miskin jiwanya. Kadang-kala mereka mengampu orang lain, sehingga ke peringkat yang memualkan, hanya semata kerana dunia yang diharapkan. Apalah ertinya harta, jika kita miskin jiwa sehingga seakan menjilat orang lain. Harta dan kuasa itu amat diperlukan jika ia menjadikan kita seperti para khalifah yang soleh dan para hartawan yang bersyukur. Anda lihatlah orang-orang politik apabila mengampu ‘tuan mereka’. Semuanya kerana mengharapkan tempiasan kuasa. Bahkan saya pernah berjumpa orang yang menyandang gelaran agama di sebuah negeri memuja ‘penghuni istana negerinya’ seakan memuja seorang nabi yang maksum. Setiap cakapannya disandarkan kepada istana negerinya. Barangkali dia mengharap tambahan ‘gelaran’ di depan namanya. Atau dia tertelan kata-kata Hang Tuah yang diriwayatkan menyebut: “Hidupku ini hanya untuk menjadi hamba Sultan Melaka semata”. Saya rasa saya pun baik juga dengan istana negeri saya. Tapi tidaklah sampai begitu. Hormati menghormati sesama manusia ada batasannya. Sebab itu, di sebuah majlis saya pernah menegur pihak tertentu yang menyebut: “Dengan izin Allah SWT dan limpah perkenan tuanku jua”. Saya katakan kepada pengerusi majlis: “Saya percaya pihak yang dipuji itupun tidak menyuruh saudara menyebut demikian. Pujian saudara ini menyanggahi hadis Nabi SAW, daripada Ibn ‘Abbas: “Bahawa seorang lelaki berkata kepada Nabi saw: “Apa yang Allah dan engkau kehendaki”. Maka baginda bersabda kepadanya: “Apakah engkau menjadikanku sekutu Allah, bahkan (katakan): apa yang hanya Allah kehendaki” (Riwayat Ahmad, dinilai sahih oleh al-Albani).” Pujian yang seperti inilah yang akhirnya akan meruntuhkan seseorang atau sesebuah institusi. Nabi Saw lebih mulia daripada kita semua. Pun Allah memerintahkan baginda mengisytiharkan: (maksudnya): Katakanlah (wahai Muhammad): “Aku tidak berkuasa mendatangkan manfaat bagi diriku dan tidak dapat menolak mudarat kecuali apa yang dikehendaki Allah. Jika aku mengetahui perkara-perkara yang ghaib, tentulah aku akan mengumpulkan dengan banyaknya benda-benda yang mendatangkan faedah dan (tentulah) aku tidak ditimpa kesusahan. Aku ini tidak lain hanyalah (Pesuruh Allah) yang memberi amaran (bagi orang-orang yang ingkar) dan membawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman” (Surah al-Anfal: 188).

Memerdekakan

Islam apabila datang kepada manusia, ia memerdekakan jiwa manusia ini dari menjadi hamba sesama manusia, kepada hanya bertuhankan Allah. Inilah yang disebut oleh Rib‘i bin ‘Amir di hadapan Panglima Angkatan Tentera Parsi: “Allah yang membangkitkan kami agar kami mengeluarkan sesiapa yang dikehendaki-Nya dari pengabdian sesama hamba menuju pengabdian kepada Allah, dari kekejaman agama-agama kepada keadilan Islam, dari dunia yang sempit kepada keluasan dunia dan akhirat”. (Ibn Kathir, al-Bidayah wa al-Nihayah, 7/48, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah). Lihatlah Bilal bin Rabah r.a., walaupun pada masa dirinya masih menjadi hamba sahaya kepada tuannya, tetapi Islam telah berjaya memerdekakan jiwanya. Dia tidak tunduk kepada kehendak tuannya yang sesat. Sekalipun tubuhnya diseksa pada terik mentari, namun jiwa merdeka hanya tunduk pada Ilahi. Malanglah seorang insan, jika tubuhnya merdeka, cukup makan dan minum, tiba-tiba jiwanya itu bersifat hamba kepada manusia sehingga melanggari batasan Allah swt.

Justeru, jika manusia menganggap tangan yang mempunyai kuasa dan harta itulah punca kebahagiaan dan ketenangan maka mereka akan menjadi hamba sesama manusia. Namun, jika mereka yakin, hanya Allah sahaja yang mampu memberi kedamaian, maka jiwa mereka akan merdeka. Sesiapa yang menjadi hamba manusia, dia tidak akan menjadi hamba Allah yang sebenar. Sesiapa yang menjadi hamba Allah yang sebenar, dia tidak akan berjiwa hamba sesama manusia. Sabda Nabi Saw: “Sesiapa yang akhirat itu tujuan utamanya, maka Allah jadikan kekayaannya dalam jiwanya. Allah mudahkan segala urusannya dan dunia akan datang kepadanya dengan hina (iaitu dalam keadaan dirinya mulia). Sesiapa yang menjadikan dunia itu tujuan utamanya, maka Allah akan letakkan kefakirannya antara kedua matanya. Allah cerai beraikan urusannya, dan dunia pula tidak datang kepadanya melainkan dengan apa yang ditakdirkan untuknya (iaitu dalam keadaan dirinya hina)”. (Riwayat al-Tirmizi, dinilai hasan oleh al-Albani). Daripada hadis ini, maka sesiapa yang benar-benar bergantung kepada Allah, jiwanya akan merdeka dan mulia. Juga dunia itu juga akan sampai kepadanya dengan harga dan maruah dirinya tidak tercemar. Sesiapa yang bergantung kepada manusia, mungkin dunia itu akan sampai ke tangannya, tapi dia akan berada dalam kehinaan dan keluh kesah. Kebimbangan yang tidak putus akan sentiasa menjelma antara kedua matanya, kerana pergantungannya lemah.

Orang mukmin yang sebenar bergantung kepada Allah, Raja segala raja, Pemilik alam semesta. Sementara yang berjiwa hamba kepada manusia, akan bertawakal kepada raja atau pemimpin yang menunggu hari untuk mati atau ditumbangkan oleh orang lain seperti Raja Nepal.
Islam mengajar kita berjiwa merdeka, sekalipun kita miskin harta, gelaran dan pangkat. Jiwa yang merdeka daripada perhambaan sesama manusia kepada tunduk hanya untuk Allah itulah yang membawa kepada kebahagiaan dan ketenangan yang sebenar. Kita memerlukan para pemimpin, sahabat handai, orang bawahan yang berjiwa merdeka. Kita tidak mahu menjadi berharta dan berkuasa, tetapi menjadi hamba sesama manusia. Pengemis yang miskin harta, lebih mulia daripada si kaya atau penguasa yang miskin jiwa.

Dr. Mohd. Asri Zainul Abidin
Mufti Kerajaan Negeri Perlis.